Berikut ini adalah salinan catatan respon tersebut yang dengan nama “Catatan Reflektif Seorang Putra Bone”:
Bone adalah Pusat Peradaban Bangsa Bugis
Catatan Reflektif Seorang Putra Bone
Zakir Sabara H. Lawata
Saya lahir di Ujung Lamuru, Lappariaja, Tanah Bone, 50 tahun lalu. Sejak kecil, saya tumbuh dengan cerita tentang kejayaan leluhur Bugis:
Tentang Kerajaan Bone yang disegani, tentang Arung Palakka yang gagah berani, tentang adat Bugis yang diikat oleh ade’ dan dijaga oleh pangadereng.
Bone adalah tanah yang melahirkan para pemimpin, tempat berkumpulnya jiwa-jiwa merdeka, dan rumah besar bagi orang Bugis untuk belajar harga diri, siri’, dan pesse.
Gerakan Rakyat Bone 19/8/2025 adalah Fenomena yang Tak Pernah Terbayangkan
Hari ini, di usia setengah abad saya, untuk pertama kalinya saya menyaksikan sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya:
Rakyat Bone melakukan perlawanan massal kepada pemimpinnya.
Ini bukan sekadar keributan, bukan sekadar unjuk rasa biasa, juga bukan huru-hara. Ini adalah suara sejarah. Sebuah tanda bahwa rakyat Bone, dengan segala kesantunan dan penghormatannya, hanya akan bangkit melawan bila keadilan dilukai, bila harga diri diinjak, dan bila siri’ sudah tertantang.
Budaya Bangsa Bugis: Sipakatau – Sipakalebbi – Sipakainge
Bangsa Bugis selalu diajarkan untuk hidup dalam keseimbangan:
Sipakatau → saling memanusiakan.
Sipakalebbi → saling menghargai.
Sipakainge → saling mengingatkan.
Perlawanan massal ini lahir bukan karena rakyat Bone haus kekacauan, tetapi karena keseimbangan itu terganggu.