Prof. Zakir Sabara Angkat Bicara Tentang Rusuh di Bone

Prof. Zakir Sabara

Prof. Dr. Ir. H. Zakir Sabara H. Lawata (Dok. foto: tribun timur)

Ketika pemimpin lalai, maka rakyatlah yang mengingatkan. Ketika wibawa pemimpin tergerus, rakyatlah yang menjadi cermin.

Manifesto Rakyat Bone 19 Agustus 2025

Peristiwa ini harus dicatat sebagai pappaseng (pesan sejarah) bagi generasi:

1. Rakyat Bone bukan rakyat yang diam. Mereka bisa sabar, bisa menghormati, tetapi tidak akan tunduk pada ketidakadilan.

2. Kepemimpinan di Bone lahir dari siri’ dan pesse. Seorang pemimpin yang kehilangan rasa malu dan empati, akan kehilangan wibawanya di mata rakyat.

3. Bone adalah tanah leluhur Bugis. Dari sinilah lahir tradisi perlawanan, keberanian, dan harga diri yang menjadi identitas bangsa Bugis.

Suara Sejarah dari Tanah Bugis

Hari ini saya menyaksikan sejarah. Sebuah gelombang rakyat yang lahir dari jiwa Bugis yang sejati.

Baca Juga  11 Hektar Laut di Sulsel, Gubernur Andi Sudirman Siapkan Jadi Apartemen Ikan

Perlawanan ini bukan sekadar politik, bukan sekadar kekuasaan, tapi panggilan dari siri’ dan pesse yang tak boleh diabaikan.

Dan kelak, anak-cucu kita akan bertanya:

“Benarkah rakyat Bone pernah bangkit melawan pemimpinnya sendiri?”

Maka dengan lantang kita bisa menjawab:

“Benar! Karena Bone adalah leluhur bangsa Bugis, dan rakyatnya akan selalu menjaga harga diri sampai kapan pun.”

Demikian catatan dari Prof. Zakir Sabara.

News