Berandaindonesia.com, Jakarta – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Habiburokhman, mengkritik keras pernyataan Saiful Mujani terkait wacana menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto. Ia mempertanyakan motif kritik tersebut, sekaligus menyoroti potensi muatan politik partisan di baliknya.
Habiburokhman langsung menilai pernyataan Saiful Mujani tidak sederhana. Ia kemudian mengaitkan posisi Mujani dengan dinamika politik sebelumnya. Selain itu, ia menekankan pentingnya melihat latar belakang dan kepentingan dalam setiap kritik politik.
“Kita tahu bahwa Saiful Mujani adalah elite politik kaya raya yang selama ini berseberangan dengan Presiden Prabowo, termasuk pada Pilpres lalu. Apakah kritik Saiful Mujani murni disebarkan untuk perbaikan, atau hal tersebut hanya operasi politik partisan?” kata Habib, ujarnya.
Selanjutnya, Habiburokhman menyatakan dukungan terhadap pandangan Sekretaris Kabinet Teddy Indrawijaya. Ia menilai fenomena “inflasi pengamat” memang terjadi dalam ruang publik. Ia melihat banyak pihak mengaku sebagai pengamat, namun tidak semua menyampaikan kritik konstruktif.
Ia lalu membedakan antara kritik yang membangun dengan kritik yang merusak. Menurutnya, sebagian pengamat justru menyebarkan narasi negatif. Ia bahkan menilai ada pihak yang menggunakan kritik sebagai alat propaganda.
“Bisa saja motif mereka hanyalah merebut kekuasaan baik dengan jalur konstitusional maupun dengan jalur inkonstitusional,” ujar dia, ujarnya.
Di sisi lain, Habiburokhman mengakui setiap pihak memiliki hak dalam kontestasi politik. Namun, ia mengingatkan risiko besar jika perebutan kekuasaan menempuh cara inkonstitusional. Ia menilai masyarakat akan menanggung beban politik yang berat.
Ia juga menegaskan masa jabatan Presiden Prabowo berlangsung lima tahun. Ia meminta publik menilai kinerja pemerintah secara objektif hingga 2029. Ia menekankan mekanisme demokrasi tetap menjadi jalur utama evaluasi.
“Jika kinerja Pak Prabowo tidak memuaskan rakyat bisa hentikan mandat, namun jika dianggap memuaskan rakyat bisa lanjutkan memberi mandat untuk 5 tahun berikutnya,” ujar Habib, ujarnya.
Saiful Mujani Dilaporkan Polisi
Sementara itu, Saiful Mujani menilai pernyataannya sebagai bagian dari sikap politik. Ia menegaskan sikap tersebut berada dalam kerangka demokrasi. Ia juga menilai partisipasi politik menjadi elemen penting dalam sistem demokrasi.
Namun, pernyataan tersebut memicu laporan polisi terkait dugaan penghasutan. Proses hukum kini berjalan dan menarik perhatian publik. Situasi ini kemudian memunculkan perdebatan baru di ruang publik.
“Kami juga mengajak untuk kita sama-sama bijak, tidak menjadikan laporan dua warga masyarakat tadi terkait tentang kriminalisasi, dibawa ke isu SARA, politik,” kata Budi, ujarnya.