Berandaindonesia.com, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto tiba di Bandara Internasional John F. Kennedy, New York, Amerika Serikat pada Sabtu sore, untuk menghadiri Sidang Majelis Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Seskab Teddy menegaskan, Presiden akan berpidato pada urutan ketiga dalam sesi Debat Umum PBB.
Menanggapi kunjungan kerja tersebut, Anggota Komisi I DPR, Amelia Anggraini meyakini Presiden Prabowo akan menyuarakan isu kemanusiaan Palestina pada Sidang Umum PBB. Ia menegaskan konsistensi Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina sebagai hak segala bangsa.
Sejak awal, ia menyebut posisi Indonesia sudah jelas dengan memberikan dukungan penuh pada perjuangan rakyat Palestina untuk meraih kedaulatan. Karna itu, ia menekankan pentingnya momen pada Sidang PBB ini untuk memperkuat persan Indonesia dalam forum internasional.
“Saya berharap Bapak Presiden akan menggemakan semangat tersebut, sekaligus memperkuat suara Indonesia di forum global,” kata Amelia, di Jakarta (21/9).
Menurutnya, momentum sidang PBB juga relevan untuk menegaskan komitmen dunia terhadap solusi dua negara atau Two-State Solution. Ia menilai solusi tersebut menjadi jalan damai yang adil sekaligus berkelanjutan.
Selain itu, Amelia menyoroti Deklarasi New York terbaru yang memperluas dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Ia menilai deklarasi tersebut sebagai babak baru dalam hukum internasional, sekaligus membuka ruang lebih besar bagi peran strategis indonesia.
Dengan demikian, ia menegaskan bahwa dukungan internasional tidak boleh berhenti pada level wacana. Amelia menegaskan dukungan itu harus berubah menjadi langkah nyata yang terus berdampak langsung bagi rakyat Palestina.
“Jadi, bukan hanya sekadar kecaman, tetapi juga dorongan agar dunia internasional berani mengambil langkah konkret menghentikan agresi Israel dan membuka akses kemanusiaan ke Gaza,” kata dia.
Lebih lanjut, ia menilai komunitas internasional juga harus bertindak sesuai mandat Piagam PBB dan Hukum Internasional. Tanpa langkah konkret, penderitaan rakyat Palestina akan terus berlangsung tanpa kepastian jalan keluar.
“Kemanusiaan harus ditempatkan di atas segalanya. Tidak ada alasan dan dalih yang dapat membenarkan pembunuhan massal terhadap warga sipil,” katanya.