Selama kiprahnya sebagai cendekiawan, Aswar Hasan kerap muncul dengan kontroversi. Saat menjalani Uji Kelayakan dan Kepatutan untuk menjadi anggota KPI Pusat, Aswar diragukan sikap toleransinya. Pasalnya, ia pernah menjabat sekjen KPPSI, sebuah organiasi massa (ormas) Islam di Sulsel yang dituding berafiliasi jaringan jaringan Islam radikal.
Kesan Mahasiswa Komunikasi Unhas
Mantan aktivis Unhas tahun 1990an, Maqbul Halim juga mengungkapkan kesan terhadap kecendekiawanan dosennya ini. Yang paling utama, kata Maqbul, dia seorang penulis produktif yang sangat peduli terhadap keadilan. Tulisan-tulisannya kerap membongkar ketidak-pedulian penguasa dan pemerintah pada tugas-tugasnya untuk membantu rakyat.
“Pak Aswar, dia punya sikap independen yang sangat kuat terhadap suatu masalah sosial. Ketika ia menulis, mungkin, dia sudah pastikan posisinya sudah berjarak dari penguasa dan pelindung ketidak-adilan,” ujar Maqbul Halim, mahasiswanya di departemen Ilmu Komunikasi Unhas.
Haidir Fitra Siagian, dosen Fakultas Dakwa dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, menyebut Aswar itu sebagai pembimbing kehidupan. Fitra ini adalah salah satu satu mahasiswa Aswar di Departemen Komunikasi Unhas.
“Bagi saya, Pak Aswar adalah sosok yang memposisikan dirinya bukan hanya sebagai pengajar di kampus, tetapi juga sebagai pembimbing kehidupan,” tulis Haidir dalam memoarnya tentang Aswar Hasan.
Hadir menambahkan bahwa Aswar juga terjun langsung ke masyarakat. Ia sangat aktif memberi pencerahan lewat tulisan-tulisannya di media dan lewat ceramah agama.
Yusran Dharmawan, mahasiswa Departemen Komunikasi Unhas 1996 juga menulis memoar tentang dosennya ini. Judulnya, “Semoga Tulisan-tulisan Aswar Hasan Cahaya yang Memandunya di Sana”.
“Dia bukan hanya guru, tetapi juga teman yang selalu hangat untuk membantu. Intelektualitasnya selalu menjadi cahaya terang, yang memandunya untuk selalu obyektif dalam situasi apapun,” tulias Yusran pada laman Unhas.tv, Kamis (14/8).