Berandaindonesia.com, Jakarta – Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok dan sulitnya mencari pekerjaan saat peringatan Hari Buruh 2026 di Jakarta Timur.
Hasto menyampaikan kondisi ekonomi menekan masyarakat, terutama buruh. Ia menilai situasi ini menuntut perhatian serius dari semua pihak.
Selain itu, ia menegaskan tekanan hidup semakin terasa di tengah ketidakpastian ekonomi nasional. Ia lalu mengajak peserta melihat kondisi riil masyarakat.
“Apalagi kehidupan kita tidak mudah. Harga bahan-bahan pokok sekarang mengalami kenaikan, betul tidak? Untuk mendapatkan pekerjaan jauh lebih sulit, betul tidak?” kata Hasto.
Selanjutnya, Hasto menyinggung gejala deindustrialisasi yang memengaruhi ketenagakerjaan. Ia menilai kondisi ini melemahkan daya serap tenaga kerja.
Karena itu, ia mengajak semua pihak membangun komitmen bersama untuk memperjuangkan nasib buruh di Indonesia.
“Hari ini kita bersama-sama membangun komitmen kita bahwa yang namanya kemerdekaan bagi buruh untuk berserikat, untuk mendapatkan perlindungan, untuk mendapatkan kesejahteraannya sebagai upaya meningkatkan peradaban Indonesia harus kita perjuangkan bersama-sama, setuju?” kata Hasto.
Kemudian, ia menekankan pentingnya persatuan dan gotong royong dalam memperjuangkan hak buruh. Ia juga mendorong langkah konkret dari berbagai elemen.
Ia menilai buruh Indonesia perlu memiliki kekuatan seperti buruh di negara lain. Ia lalu mencontohkan perkembangan Korea Selatan.
“Hari ini mengingatkan bahwa kita harus bersatu, kita harus bergotong royong, kita harus menyingsingkan lengan baju kita agar perlindungan dan peningkatan kesejahteraan buruh kita perjuangkan bersama-sama,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPP PDIP Charles Honoris membacakan manifesto politik partai untuk kaum buruh Indonesia dalam acara tersebut.
DPP PDIP Tegaskan Hari Buruh Harus Jadi Momentum Hidupkan Kemerdekaan Buruh
Ia menegaskan Hari Buruh harus menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali narasi pembebasan bagi rakyat.
“Dalam pandangan PDI Perjuangan, kaum Marhaen saat ini tidak hanya petani, nelayan, dan buruh pabrik. Ia mencakup buruh informal, masyarakat adat, pelaku UMKM, hingga pekerja digital yang rentan atau digital worker precariat,” ujar Charles.
Lebih lanjut, Charles menjelaskan tiga ajaran utama Bung Karno yang menjadi pegangan partai dalam melindungi kaum Marhaen.
Pertama, partai harus hadir bersama rakyat dan memahami perjuangan hidup mereka. Kedua, partai harus memastikan kehidupan rakyat layak dan adil.
Ketiga, partai harus memberi arah dan pengetahuan dalam perjuangan politik kebangsaan bagi buruh dan masyarakat luas.
“Partai politik bukan sekadar alat kekuasaan, melainkan suluh perjuangan yang memberikan pengetahuan konkret bagi buruh untuk memperjuangkan hak-haknya secara konstitusional,” ucapnya.