PBB Tuduh Israel Sengaja Bunuh anak-anak Gaza

PBB Israel Gaza

Seorang anak laki-laki Palestina yang mengungsi mengintip melalui celah di dinding tenda, di Kota Gaza, 6 Mei 2026. (Dok. Foto: REUTERS/Mahmoud Issa)

Berandaindonesia.com, Jenewa-Swiss–Otoritas dan pasukan keamanan Israel sengaja menargetkan anak-anak Palestina, yang mengakibatkan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang di Gaza, serta kejahatan perang di Tepi Barat yang diduduki Isarel. Demikian menurut hasil penyelidikan independen PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) pada hari Selasa (23/6/2026).

Laporan oleh Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB tentang Wilayah Palestina yang Diduduki, termasuk Yerusalem Timur, dan Israel, telah meneliti pelanggaran terhadap anak-anak Palestina sejak dimulainya perang antara Israel dan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Menurut laporan tersebut, kurang lebih 30% yang tewas dalam perang Gaza adalah anak-anak.

Pada September tahun lalu, komisi PBB ini juga melaporan bahwa timnya menemukan Israel telah melakukan genosida di Gaza. Pejabat tinggi Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, disebutkan juga ikut menghasut tindakan-tindakan ini. Israel menyebut temuan ini sebagai skandal.

Misi Israel di Jenewa mengatakan Israel menolak apa yang disebutnya sebagai “laporan advokasi fitnah kedua” dari Komisi tersebut.

“Israel menolak fitnah palsu ini,” katanya dalam sebuah pernyataan, menambahkan bahwa “setiap anak berhak mendapatkan perlindungan” dan menegaskan bahwa laporan tersebut mengabaikan “taktik brutal Hamas”.

Komisi PBB mengatakan bahwa anak-anak Palestina sengaja dijadikan (oleh Israel–red) sasaran dan dibunuh selama perang, termasuk setelah gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025. Laporan ini menyebutkan bahwa ini adalah elemen kunci yang membuktikan niat genosida oleh otoritas dan pasukan keamanan Israel untuk menghancurkan kelompok Palestina, secara keseluruhan atau sebagian, di Gaza.

“Bukti menunjukkan bahwa anak-anak Palestina telah sengaja dijadikan sasaran dan dibunuh oleh pasukan keamanan Israel,” kata Srinivasan Muralidhar, ketua komisi, dalam sebuah pernyataan yang menyertai laporan tersebut.

Baca Juga  Persiapan Pemprov Sulsel untuk Konstruksi Sekolah Rakyat Tahun 2025 dan 2026

Kematian Anak-anak

Laporan tersebut menemukan bahwa proporsi anak-anak yang tewas lebih tinggi daripada dalam konflik sebelumnya. Antara 7 Oktober 2023 dan 7 Oktober 2025, setidaknya ada 20.179 anak yang tewas, 30% dari total korban jiwa.

Laporan tersebut memberikan perbandingan. Dalam konflik di Gaza pada tahun 2008–2009 dan 2014, anak-anak menyumbang sekitar 24% dari korban jiwa terkait konflik.

Pasukan Israel terus menggunakan amunisi berdaya ledak tinggi dan senjata dengan efek area luas di daerah pemukiman padat penduduk meskipun korban anak-anak terus meningkat, kata komisi tersebut.

“Ini menunjukkan bahwa serangan-serangan tersebut, yang menewaskan anak-anak dalam jumlah yang sangat tinggi, adalah disengaja,” katanya.

Komisi tersebut mengatakan bahwa mereka percaya anak-anak menjadi sasaran secara kolektif karena pasukan keamanan Israel menganggap penduduk sipil secara keseluruhan terkait dengan Hamas dan kelompok bersenjata lainnya.

Israel Menolak Tuduhan dalam Laporan Itu

Sebuah bantahan yang dibagikan oleh misi Israel di Jenewa menyatakan bahwa Israel “secara konsisten berupaya meminimalkan kerugian bagi anak-anak bahkan dalam situasi konflik” dan bahwa Israel menolak dengan tegas anggapan bahwa mereka sengaja menargetkan anak-anak.

Muralidhar mengatakan bahwa dengan menargetkan anak-anak, Israel merusak kemampuan rakyat Palestina untuk hidup dan menentukan masa depan mereka.

Kondisi yang diberlakukan oleh Israel di Gaza, termasuk serangan yang meluas, pengungsian berulang, dan kelaparan yang disebabkan oleh blokade bantuan, makanan, dan obat-obatan, sangat merusak kesehatan dan perkembangan anak-anak, mengakibatkan kematian dan trauma yang sebenarnya dapat dicegah, kata laporan itu.

Baca Juga  Gencatan Senjata Berarti AS dan Israel Berhenti Menyerang Iran

Penyelidikan tersebut juga menemukan bahwa serangan terhadap fasilitas perawatan kesehatan dan reproduksi berdampak pada kelangsungan hidup bayi baru lahir. Laporkan itu juga menyebutkan adanya peningkatan keguguran, dan bahwa hampir semua anak di Gaza dilaporkan membutuhkan dukungan psikologis.

Tanggapan Israel menyatakan bahwa laporan tersebut gagal menyebutkan peran Israel dalam memfasilitasi vaksinasi dan masuknya staf medis, serta pendirian rumah sakit lapangan. Israel menuduh Hamas secara sistematis mengalihkan bantuan kemanusiaan dan bahan bakar untuk rumah sakit. Hamas telah menolak tuduhan tersebut.

Tepi Barat

Di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, Komisi menemukan peningkatan tajam kekerasan oleh pemukim Israel terhadap anak-anak Palestina. Laporan itu mempunyai bukti dokumentas tentang penyiksaan, termasuk kekerasan seksual dan berbasis gender, selama penangkapan dan penahanan massal.

Komisi menyatakan bahwa anak-anak Palestina, khususnya anak laki-laki, menjadi sasaran perlakuan buruk sistematis dalam penahanan, termasuk pemaksaan untuk telanjang, pemukulan, dan kekurangan makanan.

Komisi menyimpulkan bahwa perlakuan tersebut merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan berupa penyiksaan dan tindakan tidak manusiawi lainnya yang menyebabkan penderitaan hebat atau cedera serius.

Tanggapan Israel menyatakan bahwa temuan laporan mengenai Tepi Barat mengabaikan konteks tentang “ancaman teroris yang terus-menerus” yang menurut laporan tersebut sedang ditanggapi oleh pasukan keamanan Israel.

Sumber: Reuter News Agency
(Laporan oleh Olivia Le Poidevin; Disunting oleh Aidan Lewis)

News