Berandaindonesia.com, Kuala Lumpur–Langkah Malaysia menurunkan harga diesel menjadi RM2,10 (Rp 9.196,61) per liter untuk semua warga, dapat menekan ruang fiskal pemerintah jika harga minyak naik lagi, demikian peringatan para analis.
Keputusan Malaysia untuk menghidupkan kembali subsidi diesel secara menyeluruh di bawah skema yang lebih terkontrol menunjukkan “kebutuhan mendesak”.
Alasan pemerintah Malaysia adalah untuk menutup kebocoran besar dan penyalahgunaan melalui penyelundupan dan konsumsi oleh warga asing. Namun para analis mengatakan bahwa alasan itu bersifat politis, bukan bersifat ekonomis.
Karena itu, para analis memperingatkan bahwa dengan menurunkan harga diesel lebih dari setengahnya di Semenanjung Malaysia, keuangan pemerintah dapat tertekan jika harga minyak naik lagi.
Mulai 1 Juli, harga solar akan turun menjadi RM2,10 per liter (Rp 9.196,61), turun dari harga subsidi saat ini sebesar RM2,15 per liter di negara bagian Sabah dan Sarawak di Malaysia Timur, dan RM4,07 di Semenanjung Malaysia di mana sebelumnya tidak disubsidi.
Penggunaan BBM Solar subsidi ini mengikuti syarat dan ketentuan yang berlaku. Syarat ini sama dengan yang berlaku untuk bensin Ron95 yang khusus untuk warga Malaysia.
Pemerintah Malaysia masih disibukkan dengan upaya untuk menekan penyalah-gunaan BBM bersubsidi dan penyelundupan. Selain itu, pemerintah Malaysia juga sedang berusaha menekan agar BBM bersubsidi tidak dinikmati warga negara asing.
Pada tahun 2023, kas negara Malaysia berada di bawah tekanan, setelah negara tersebut menghabiskan RM 14,3 milyar (Rp 62,6 trilyun) untuk subsidi solar secara menyeluruh. Angka itu melonjak dari RM 1,4 milyar dibanding dengan tahun 2019. Itulah sebabnya, harga solar seharga RM 2,15 per liter merupakan harga termurah kedua di Asia Tenggara setelah Brunei.
Pada Juni 2024, pemerintah federal sudah merasa cukup. Pemerintah menghapus subsidi bahan bakar diesel secara menyeluruh di Semenanjung Malaysia, membiarkan harganya berfluktuasi dan menaikkannya menjadi RM 3,35 per liter.
Namun, pada Juni 2024, pemerintah memutuskan untuk mempertahankan subsidi diesel untuk semua orang di Malaysia Timur, dengan harga tetap di RM 2,15 per liter. Kondisi jalan yang buruk dan jarak yang jauh di Sabah dan Sarawak menyebabkan kendaraan diesel lebih umum digunakan.
Mengendalikan Kebocoran dan Penyelundupan
Para ekonom dan analis di Malaysia mengatakan bahwa perbedaan harga solar subsidi dan non-subsisi, termasuk harga solar di luar Malaysia, menyebabkan penyeludupan juga meningkat.
Tagihan subsidi yang tinggi dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan adanya kebocoran subsidi yang substansial, di mana warga negara asing membeli solar bersubsidi, atau solar yang lebih murah ini lalu diselundupkan ke negara-negara tetangga dan dijual untuk mendapatkan keuntungan.
Analis melihat bahwa konsumsi solar di Malaysia Timur yang meningkat pesat saat diterapkan subsidi, jelas ada penyalahgunaan sistem. Itu merupakan contoh klasik, pelaku ekonomi mencoba mengakali sistem ketika ada subsidi, menyebabkan maraknya penyelundupan. Analis menunjuk pada laporan tentang dugaan penyelundupan solar subsidi yang tertangkap di tempat-tempat seperti Sandakan dan Kudat, kota-kota di pantai Kalimantan tempat solar dapat diselundupkan melalui laut.
Tampaknya pemerintah Malaysia gagal mengurangi kebocoran dalam sistem subsidi solar saat ini. Sejauh menyangkut penyelundupan, entah implementasi tidak memadai, penegakannya hukumnya lemah, atau perbatasannya terlalu longgar.
Menekan Ruang Fiskal Pemerintah Federal Malaysia
Subsidi solar itu akan membawa dampak pada kondisi fiskal pemerintah federal, terutama jika harga minyak naik lagi. Di satu sisi, pemerintah ingin melindungi warga (dari harga yang lebih tinggi). Di sisi lain, pemerintah harus membiayai subsidi tersebut. Tentu saja, hal itu akan mempersempit ruang fiskal bagi pemerintah.
Subsidi Solar untuk Iming-iming Pemilu
Penurunan harga solar untuk warga Malaysia juga terjadi pada saat negara sedang berada di “musim pemilu”, kata seorang analis dari Viewfinder Global Affairs.
Negara bagian Johor dan Negeri Sembilan akan mengadakan pemilu masing-masing pada 11 Juli dan 1 Agustus. Meskipun Pemilihan Umum Malaysia baru akan diadakan pada Februari 2028, namun Perdana Menteri Anwar Ibrahim tetap mewaspadai kemungkinan pemilu mendadak.
Koalisi Pakatan Harapan pimpinan Anwar Ibrahim (Perdana Menteri Malaysia saat ini) ditengarai mendapatkan manfaat besar atas subsidi solar tersebut. Politisi Malaysia berharap bahwa rencana rasional apa pun tentang subsidi sebaiknya menunggu hingga pemilihan umum selesai.
Pada sisi lain, kubu Pakatan Haran menilai bahwa keputusan subsidi tersebut sangat membantu masyarakat bawah dan lemah. Menurut mereka, itu menujukkan bahwa Anwar Ibrahim adalah pemimpin yang dibutuhkan pemilih di masa krisis.
Sumber: CNA