Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan Publik terhadap Prabowo

Survei Kepuasan Publik Prabowo

Sketsa perberdaan dua lembaga lembaga survei dan dua hasil yang berbeda tentang kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. (Foto: dibuat oleh Akal Imitasi atau AI)

Sorotan Redaksi

  • Bukan Sekadar 63 persen versus 51,1 persen
  • Ekonomi Menjadi Titik Krusial
  • Mengapa Hasil Survei Bisa Berbeda
  • Reputasi: SMRC Punya Keunggulan Historis
  • Integritas adalah Persoalan Sensitif
  • Apa Yang Harus Diperhatikan Pemerintahan Prabowo?
  • Angka Mana yang Harus Dipercaya
  • Ujian Sesungguhnya adalah Transparansi

DUA LEMBAGA survei nasional membaca tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto dengan angka yang berbeda cukup jauh. Indonesia Political Opinion (IPO) mencatat tingkat kepuasan sebesar 63 persen, sementara Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menemukan angka 51,1 persen.

Selisih hampir 12 poin persen itu sekilas terlihat seperti pertentangan. Namun, dalam membaca survei opini publik, perbedaan angka tidak serta-merta menunjukkan bahwa salah satu lembaga itu keliru. Yang lebih penting justru bagaimana survei itu dirancang, kapan data dikumpulkan, siapa yang diwawancarai, bagaimana pertanyaan diajukan, serta bagaimana lembaga tersebut menjelaskan temuannya. Di wilayan ini redaksi, akan akan mengembangkan sorotan ini.

Dalam konteks politik pemerintahan Prabowo, perbedaan hasil IPO dan SMRC juga menyimpan pesan yang lebih penting. Bahkan survei dengan angka kepuasan yang lebih tinggi sekalipun menunjukkan bahwa kepuasan publik terhadap pemerintah tidak berada pada kondisi tanpa persoalan. Dengan kata lain, sedang tidak berada pada kondisi yang baik.

Baca Juga  PDIP Apresiasi Sikap Prabowo yang Tak Usik Latar Belakang Pemenang Proyek

IPO menyebut tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo mencapai 63 persen. Angka itu terdiri atas 6 persen responden yang menyatakan sangat puas dan 57 persen puas. Sementara 30 persen menyatakan tidak puas, 5 persen sangat tidak puas, dan 2 persen tidak menjawab.

Angka tersebut, menurut Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah, mengalami penurunan ketimbang survei sebelumnya.

Sementara itu, SMRC dalam survei nasional yang dilakukan pada 5-19 Juli 2026 sebelumnya mencatat tingkat kepuasan terhadap kinerja Prabowo adalah sebesar 51,1 persen. Surveinya melibatkan 749 responden, dengan margin of error sekitar 3,7 persen.

Yang membuat survei SMRC menjadi perhatian publik dan para analis politik bukan semata angka 51,1 persennya. Perhatian mereka lebih tertuju pada tren penurunan kepuasan terhadap Prabowo.

Baca Juga  Prabowo Bertemu Tokoh Oposisi Bahas Kebocoran Anggaran Negara

Pada November 2025, tingkat kepuasan terhadap Prabowo menurut SMRC masih berada pada posisi 81,2 persen. Angka ini turun menjadi 66,4 persen pada survei Februari-Maret 2026. Lalu trend kembali merosot menjadi 51,1 persen pada Juli 2026. Dalam waktu sekitar sembilan bulan, terjadi penurunan 30,1 poin persentase.

Di sinilah perbedaan antara membaca angka dan membaca tren menjadi penting.

Bukan Sekadar 63 persen versus 51,1 persen

Jika perhatian hanya diarahkan pada angka terakhir, IPO memberikan gambaran yang lebih positif. Sebanyak 63 persen publik menyatakan puas terhadap kinerja Presiden, sementara yang tidak puas dan sangat tidak puas berjumlah 35 persen.

SMRC memberikan gambaran yang jauh lebih berimbang. Sebanyak 51,1 persen menyatakan sangat atau cukup puas, sedangkan 46,9 persen menyatakan kurang atau tidak puas. Sisanya 2,1 persen tidak tahu atau tidk menjawab.

News