Mojtaba Khamenei Pemimpin Baru Republik Islam Iran

Mojtaba Khamenei Pemimpin Iran

Gambar pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, ditampilkan di layar di Teheran, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Teheran, Iran, 9 Maret 2026. Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS

  • Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin baru Iran
  • Israel menyatakan akan menargetkan siapapun pemimpin Iran
  • Harga minya melonjak setelah producer Timur Tengah memangkas produksinya

Berandaindonesia, Makassar–Iran baru saja menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya yang terbunuh sebagai pemimpin tertinggi pada hari ini Senin (9/3/2026). Penunjukan Motjaba ini menandakan bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali dan tampaknya menutup jalan menuju pengakhiran perang yang cepat di Timur Tengah.

Selain itu, prospek gangguan terhadap pasokan energi global dapat berlangsung lebih lama setelah penunjukan pemimpin baru Iran ini. Gangguan saat ini merupakan yang laing parah sepanjang sejarah. Situasi ini menyebabkan harga minyak melonjak dalam rekor tertinggi dan pasar saham global anjlok.

Khamenei muda, 56 tahun, seorang ulama Syiah dengan basis kekuasaan mencakup pasukan keamanan dan kerajaan bisnis Iran yang luas. Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak menerima penunjukan ini dan tetap menuntut penyerahan tanpa syarat dari Iran.

Sistem Politik Iran Solid Mendukung Mojtaba

Sistem politik Iran yang ada ternyata sangat solid mendukung pemimpin tertinggi yang baru. Para politisi dan lembaga-lembaga mengeluarkan janji kesetiaan yang tegas kepada pemimpin baru mereka. Prosesi terbuka pengucapan sumpah kesetiaan akan diumumkan hari ini juga (waktu setempat).

Baca Juga  PN Jakpus Hormati Keputusan Amnesti dari Presiden

“Kami akan mematuhi panglima tertinggi hingga tetes darah terakhir kami,” demikian pernyataan dari Dewan Pertahanan.

Ayah Mojtaba, Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, tewas dalam salah satu serangan pertama yang dilancarkan terhadap Iran lebih dari seminggu yang lalu.

Mojtaba dipandang sebagai kandidat terdepan menjelang pemungutan suara pada hari Minggu (8/3/2026) oleh Majelis Pakar, sebuah badan yang terdiri dari 88 ulama yang bertugas memilih pengganti Ali Khamenei. Badan ini memiliki wewenang terakhir dalam semua urusan negara.

Terlepas dari sumpah kesetiaan publik, masyarakat Iran tetap terpecah belah. Banyak warga Iran secara terbuka merayakan kematian Khamenei senior. Perayaan itu hanya berselang beberapa minggu setelah pasukan keamanan Iran menjinakkan ribuan demonstran anti-pemerintah dalam huru-hara domestik terburuk sejak era revolusi Iran tahun 1979.

Namun, hanya sedikit tanda aktivitas anti-pemerintah selama kampanye pengeboman oleh Israel dan Amerika Serikat saat ini. Para aktivis mengatakan akan berbahaya untuk turun ke jalan sementara negara sedang diserang.

Baca Juga  KPK Gunakan AI untuk Periksa LHKPN, Ada 341 Laporan Diselidiki

Sementara, pihak Israel mengatakan tujuan perangnya adalah untuk menggulingkan sistem pemerintahan ulama Iran. Washington awalnya lebih berhati-hati, mengatakan tujuannya adalah untuk menghancurkan kemampuan rudal dan program nuklir Iran. Belakangan, Trump meningkatkan tuntutannya dengan juga menuntut pemasangan pemerintahan Iran yang baru.

Israel telah mengatakan akan membunuh siapa pun yang menggantikan Khamenei senior. Kecuali jika Iran mengakhiri kebijakan permusuhannya. Demikian juga, Trump mengulangi tuntutannya pada hari Minggu kemarin agar Washington memiliki suara dalam pemilihan pemimpin tertinggi yang baru.

“Jika dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump kepada ABC News, dan menambahkan bahwa mengakhiri perang akan menjadi keputusan “bersama” dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Times of Israel setelah pemimpin tertinggi baru itu ditunjuk, Trump menolak untuk menanggapi, hanya mengatakan “Kita lihat saja apa yang terjadi,” menurut surat kabar tersebut.

Sumber: REUTERS

News