Berandaindonesia.com, Makassar–Prof. Dr. M. Natsir Nessa adalah salah seorang guru besar yang sangat berjasa bagi Universitas Hasanuddin (Unhas). Pria kelahiran Belawa 27 Desember 1948 ini berjasa menyatukan dua departemen di Unhas menjadi Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FKIP).
Departemen (dulu bernama Jurusan) Ilmu Perikanan merupakan salah satu jurusan di Fakultas Peternakan hingga tahun 1996. Sementara pengembangan Ilmu Kelautan adalah merupakan program yang disebut Pola Ilmiah Pokok (PIP) Unhas sejak tahun 1975. Tahun 1988, pengembangan ilmu kelautan ini berubah menjadi Program Studi Ilmu Kelautan. Kedua jurusan ini bersatu menjadi Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FKIP).
Salah satu penyokong utama penyatuan program dan jurusan ini menjadi FKIP adalah Natsir Nessa. Oleh karena itu, Natsir Nessa memiliki makna khusus bagi sivitas akademika Universitas Hasanuddin, khususnya bagi FIKP. Guru Besar ini merupakan ilmuwan yang memiliki kontribusi besar dalam pengembangan ilmu kelautan di Unhas.
Tokoh yang dikenal memiliki dedikasi tinggi dan berintegritas kuat ini juga merupakan bagian dalam sejarah dan perjalanan Unhas. Sebelum menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar pada 27 April 2023, Natsir Nessa telah memberikan sumbangsih yang sangat berharga bagi kemajuan dan perkembangan Unhas.
Beliau pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Hidrologi dan Produksi Fakultas Pertanian Unhas (1975-1977), Ketua Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Peternakan Unhas (1987-1989), Dekan Fakultas Peternakan Unhas (1989-1991), Ketua Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas (1991), Direktur Pasca Sarjana Unhas (2002-2004), Sekretaris Senat Unhas (2006-2016), sekaligus anggota Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi BAN-PT (2006-2016).
Menjelang akhir hayatnya, Natsir Nessa dipercaya sebagai salah seorang anggota Majelis Wali Amanah (MWA) Unhas pada periode 2016-2018. Pada masa ini, Prof. Natsir Nessa berkontribusi dalam merumuskan landasan strategis Unhas yang ketika itu baru saja bertransformasi menjadi PTNBH.
Dalam bidang akademik, Natsir Nessa dikenal sebagai sosok pendidik dan ilmuwan yang konsisten mendorong penguatan riset maritim berbasis potensi lokal Indonesia Timur. Dedikasinya tidak hanya tercermin melalui kegiatan pendidikan dan penelitian, tetapi juga dalam pengembangan kelembagaan FIKP Unhas sebagai pusat unggulan kajian kelautan dan perikanan.
Auditorium Prof. Dr. M. Natsir Nessa
Untuk mengenang jasa dan pengabdiannya, FIKP Unhas menghadirkan fasilitas yang diberi nama Auditorium Prof. Dr. M. Natsir Nessa. Fasilitas baru yang dirancang sebagai ruang kolaboratif untuk mendukung kegiatan akademik, diseminasi riset, serta penguatan jejaring ilmiah internasional.
Prosesi soft launching Auditorium Prof. Dr. M. Natsir Nessa berlangsung Sabtu (20/6) di lantai 4 Gedung FIKP, Kampus Unhas Tamalanrea. Peresmian ditandai dengan pemotongan pita dan penandatanganan prasasti oleh Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. Turut hadir Dekan FIKP, Prof. Dr. Mahatma, S.T., M.Sc., serta disaksikan jajaran pimpinan universitas, dekan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, dan tamu undangan.
Menurut Jamaluddin Jompa, pemberian nama tersebut merupakan bentuk penghormatan institusi terhadap sosok akademisi yang telah memberikan warisan pemikiran dan pengabdian bagi kemajuan pendidikan tinggi, khususnya bagi Universitas Hasanuddin.
“Nama besar Prof. Natsir Nessa akan selalu menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya, berinovasi, dan mengabdikan ilmu pengetahuan bagi masyarakat,” kata Jamaluddin Jompa.
Dekan FIKP Unhas, Mahatma menambahkan, kehadiran auditorium baru ini menjadi bagian dari strategi fakultas dalam meningkatkan kualitas layanan akademik dan memperluas ruang kolaborasi riset berskala global.
“Kami berharap auditorium ini akan mendukung pelaksanaan berbagai agenda ilmiah internasional serta memperkuat peran FIKP Unhas sebagai rujukan pengembangan ekonomi biru berkelanjutan,” jelas Mahatma.
Pemanfaatan perdana Auditorium Prof. Dr. M. Natsir Nessa diintegrasikan dengan pelaksanaan SYMARFISH 2026 yang mengusung tema “Science-driven Innovation in the Blue Economy: Achieving Food Security and the SDGs”. Penyelenggaraan forum ilmiah internasional tersebut menjadi bukti kesiapan fasilitas baru ini dalam mendukung agenda akademik berskala global.

Sumber: Humas Unhas