Jokowi Dengan Jurus Injak Kepala Kerbau

Jokowi Kepala Kerbau

Prosesi adat Lampung, dengan menginjak kepala kerbau. (Dok. Karikatur by AI)

E D I T O R I A L

Partai PDI Perjuangan (PDI-P) dituding ada di balik gerakan protes aksi Mahasiswa setelah salah seorang kadernya elitnya Andi Widjajanto ditemukan berada di tengah massa aksi mahasiswa di Jakarta pada Jumat, 12 Juni 2026. Koalisi pendukung pemerintahan Prabowo-Gibran gerah dengan ulah Andi Widjajanto ini. Politisi Partai Gerindra, PAN, PKB, dan Golkar melontarkan protes keras terhadap kader PDI-P ini.

Nun beberapa hari kemudian, Jumat 26 Juni atau 14 hari setelah aksi Widjojanto di atas, melalui partai PSI yang juga anggota koalisi pendukung Prabowo-Gibran, memilih cara berbeda menghadapi partai Banteng moncong putih ini. Joko Widodo (Jokowi), simpatisan ekstrim Partai PSI, dengan tenang dan riang, menginjakkan kakinya di atas kepala kerbau dalam sebuah prosesi adat Lampung di Bandar Lampung. Secara otomatis, PDI-P pun meradang dan tantrum. Kepala kerbau, kepala sapi, dan kepala banten, tiga entitas ini sudah melebur ke dalam makna simbol yang assosiatif.

Mulut Guntur Romli yang selama ini juga kerap sebagai mulut PDI-P, pun tidak berhenti membuncah merespon tingkah Jokowi injak kepala kerbau tersebut. Ada rasa yang lebih sakit di PDI-P pada aksi Jokowi ini ketimbang rasa sakit Koalisi Parpol Prabowo-Gibran pada aksi Widjojanto di tengah aksi massa mahasiswa. Aksi Widjojanto adalah aksi verbal, sementara aksi Jokowi lebih tepatnya disebut aksi non-verbal.

Ruang publik pun disesaki kontroversi wacana tentang kunjungan Jokowi ke Lampung, yang sekaligus menyaksikan Partai PSI di provinsi ini menggeliatkan dirinya di hadapan Jokowi. Pro dan kontra aksi injak kepala kerbau pun saling berdebat di berbagai platform dan forum. Lima korban tewas Latsarmil (Latihan Dasar Militer) bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) pun terlempar ke tangga bawah perhatian publik.

Kemarahan PDI-P terhadap aksi injak kepala kerbau itu, mengalahkan tampilan kemarahan publik atas tewasnya lima calon manajer KDMP di Latsarmil. Kemarahan PDI-P ini juga memberi ruang istirahat bagi pemerintah yang sedang sibuk menghadapi sorotan, kritik dan protes terhadap kegagalan proyek MBG.

Dalam perkara Widjojanto dan aksi injak kepala kerbau di atas, sepertinya ada kordinasi yang tidak terkordinasi antara kutub Prabowo Subianto dan kutub Jokowi. Dua kutub saling memehami tanpa perlu interaksi verbal. Jokowi bisa memberi bantuan kepada Prabowo tanpa Prabowo meminta tolong. Demikian pula sebaliknya.

Baca Juga  Sekjen Partai Demokrat Tegaskan Hubungan SBY dan Jokowi Tetap Baik

Alangkah sandiwaranya politik ini jika ternyata pernah ada ucapan Jokowi kepada Pranowo bahwa kalau moncong putih nakal kepada pemerintahan Prabowo; “biarkan menjadi urusan saya,” ucap Jokowi. Jika obrolan ini benar-benar pernah ada, maka tampilan keretakan Geng Solo (Jokowi) dan Geng Hambalang (Geng Prabowo) betul-betul sebuah kamuflase yang menyesatkan, seperti halnya wacana Ijazah Palsu Jokowi dalam perkara dokter Tifa dan Roy Suryo.

Terlepas dari sandiwara di atas itu, entah ada atau tidak pernah ada, masyarakat negeri ini sudah khatam bahwa Jokowi itu ahlinya aksi-aksi simbolik dan permainan simbol. Tidak banyak politisi dan tokoh berpengaruh bisa memainkan simbol-simbol di ruang publik.

TENTU kita masih ingat, presiden Jokowi melakukan peninjauan mendadak (sidak) ke proyek Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, 18 Maret 2016. Dalam kunjungan tersebut, beliau menyatakan kesedihannya melihat proyek senilai triliunan rupiah yang mangkrak dan dipenuhi semak belukar akibat kasus korupsi.

Kunjungan Jokowi ini dipahami sebagai repon tidak langsung terhadap sikap kubu Partai Demokrat dan mantan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kontra terhadap pemerintahan Jokowi-Kalla. Mega Proyek Hambalang ini merupakan wacana tabu bagi Partai Demokrat dan SBY.

Mengapa tabu? Proyek ini direncanakan pada masa pemerintahan Presiden SBY, diwarnai dengan penyelewengan dana dari tahap perencanaan, pengadaan lahan, hingga konstruksi, mengakibatkan kerugian negara hingga Rp 464 miliar. Menpora Andi Mallarangeng, Ketum Demokrat Anas Urbaningrum, anggota DPR RI Angelina Sondakh, dan Bendahara Demokrat M. Nazaruddin menjadi tumbal skandal mega proyek ini.

Skandal korupsi Hambalang menjadi salah satu titik balik yang meruntuhkan elektabilitas Partai Demokrat secara drastis pada Pemilu 2014. Sidak Jokowi ke Hambalang waktu dilihat sebagai aksi simbolik untuk menyadarkan pubik tentang pihak-pihak yang terlibat. Setelah sidak itu, tekanan dari Demokrat dan SBY pun tidak lagi terasa keras.

KEMBALI ke aksi injak kepala kerbau, ini menandakan bahwa belum waktunya menyebut Jokowi sebagai politisi ecek-ecek. Ini aksi simbolik yang betul-betul langsung menusuk ke jantung. Ini gaya politik Jokowi yang khas, unik, cerdik dan makin berani. Jokowi bukanlah seperti yang maksudkan Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri pada suatu waktu, bahwa Jokowi tidak ada apa-apanya jika tanpa PDI-P. Atau seperti ucapan Megawati lainnya, Jokowi itu petugas partai.

Baca Juga  Kepala Daerah atau Konten Kreator?

Jadi sebenarnya, sekalipun sejak saat itu, bukan wayang. Ia adala pemain. Saat itu banyak yang meremehkan dirinya sebagai pion Luhut belaka. Tapi sebenarnuya Jokowi ituadalah Soeharto dalam versi wajah ndeso. Dengan senyum dan kesabaran, Jokowi bisa membunuh ular di pohon mati tapi rantingnya tak patah. Ada yang menyebut Jokowi ini sebagai “Raja Simbiol is back”.

Umumnya netizen melihat perseteruan terbuka PDI Perjuangan dan Jokowi pada gilirannya akan menggerus elektabilitas partai Banteng. Lebih dari itu, PDI-P akan menjadi korban permainan simbolik Jokowi jika tidak tepat mengambil sikap. PDI-P akan lebih banyak memperhatikan prilaku Jokowi ketimbang bagaiman PDI-P kembali merebut supremasinya pada perpolitikan nasional.

Pada kasus Jokowi injak kepala kerbau, hanya PDI-P yang kepanasan. Tentu masyarakat Lampung tidak bersoal, karena itu ritual ada yang sakral dan sangat disucikan. PDI-P tidak punya peluang untuk mengelak, sebab sudah banyak tokoh nasional yang mendapat gelar adat dari Lampung dengan cara menginjak kepala kerbau, namun PDI-P tidak meradang dan tantrum.

Lagi pula, Jokowi itu adalah pecatan PDI-P, tapi PDI-P masih terus mengusilinya. Ini kontroversi dengan sikap PDI-P yang selalu meremehkan Jokowi. Seharusnya PDI-P dan Megawati jujur saja bahwa jika tidak ada Jokowi, PDI-P tidak akan pernah punya presiden yang dipilih oleh rakyat. Pada Piplres 2004 dan 2009, Megawati dikalahkan oleh SBY. Pilpres di MPR 1999, Megawati dikalahkan oleh Gus Dur. Ganjar Pranowo dari PDI-P dilakahkan oleh Prabowo.

Jokowi itu cerdas, kata sebagian netizen, itu cerdas. Alasannya, Jokowi pintar memancing emosi pihak Banten dengan menginjak kepala kerbau. Dengan setiap kemarahan yang disulut emosi seperti ini, sibuk mengurusin hidup Jokowi, maka PDI-P bakal lalai menyiapkan kader-kadernya untuk diusung di pilpres 2029 yang yang dapat diterima diterima rakyat.

Ritual menginjak kepala kerbau merupakan prosesi sakral dalam penganugerahan gelar kehormatan adat Lampung. Praktik ini sebagai simbol membuang sifat buruk, lambang pembersihan diri dan sebagai tanda kesiapan orang untuk masuk fase hidup baru dengan membawa keberkahan dan kemakmuran. Jika Jokowi hendak dibuang sifat buruknya dan dibersihkan dirinya dalam ritual itu, mengapa PDI-P tidak menerima?

 

News