Dari Panggung Seni ke Gedung DPR
Sisi lain kehidupan Guruh selain berkarya di dunia seni, adalah dunia politik praktis. Ia pertama kali terpilih menjadi anggota DPR pada periode 1992–1997 melalui Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Setelah Reformasi, Guruh kembali menjadi anggota DPR melalui PDI Perjuangan. Ia terpilih untuk periode 1999–2004 dan 2004–2009. Pada periode berikutnya, ia kembali terpilih untuk periode 2009–2014 dan 2014–2019, serta kembali memperoleh mandat sebagai anggota DPR pada periode 2019–2024.
Dalam dua periode, Guruh mewakili daerah pemilihan Jawa Timur VI yang meliputi Kediri, Blitar, dan Tulungagung.
Pada periode lainnya, ia mewakili Jawa Timur I yang meliputi Surabaya dan Sidoarjo. Pada periode terakhirnya di DPR, ia tercatat sebagai anggota Fraksi PDI Perjuangan dan Komisi X DPR RI.
Perjalanan politik Guruh juga tidak selalu identik dengan posisi sebagai anggota parlemen. Ia pernah menyatakan keinginannya untuk memperoleh posisi lebih tinggi di partai dan pernah disebut sebagai salah satu kandidat dalam dinamika kepemimpinan PDI Perjuangan.
Pada 2010, Guruh pernah menyatakan seni dan politik merupakan dua instrumen yang merupakan bagian dalam kehidupan publiknya.
Namun, hingga akhir hayatnya, nama Guruh lebih kuat melekat sebagai seniman dan budayawan dibandingkan sebagai politikus.
Kehidupan Pribadi
Dalam kehidupan pribadi, Guruh pernah menikah dengan Guseynova Sabina Padmavati, perempuan asal Uzbekistan yang juga dikenal sebagai penari.
Keduanya menikah pada 2002. Pernikahan tersebut kemudian berakhir dengan perpisahan dan perceraian pada 2009.
Tidak banyak informasi publik yang dapat diverifikasi mengenai kehidupan keluarga Guruh setelah perceraian tersebut.
Aktivitas Kreatif Menjelang Akhir Hayat
Meski telah memasuki usia 73 tahun, Guruh masih terlibat dalam kegiatan seni.
Salah satu aktivitas terakhirnya yang terdokumentasi pada 2026 adalah keterlibatannya dalam produksi musikal Bukan Cinta Galih/Ratna.
Pada 8 Januari 2026, Guruh hadir dalam jumpa pers pementasan tersebut di Jakarta. Produksi musikal itu dikerjakan Kinarya GSP, bekerja sama dengan Sthana Pentas 6.
Musikal tersebut dipanggungkan pada 7 Februari 2026 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Guruh terlibat sebagai komposer dan membawa karya-karya musiknya ke dalam produksi yang mempertemukan nostalgia era 1980-an dengan pendekatan kekinian gererasi saat ini.
Keterlibatan itu memperlihatkan bahwa aktivitas kreatif Guruh belum sepenuhnya berhenti meskipun kondisi kesehatannya telah menurun dalam sekitar setahun terakhir.
Dengan perjalanan lebih dari lima dekade, Guruh meninggalkan jejak di sejumlah bidang sekaligus: musik, tari, koreografi, film, produksi pertunjukan, organisasi kesenian, dan politik.
Pada Sabtu pagi, perjalanan kehidupan itu berakhir di Jakarta.
Dari rumah sakit, jenazah Guruh dibawa ke rumah duka di Jalan Sriwijaya Raya. Keluarga kemudian menyiapkan pemakaman di TPU Karet Bivak, dekat pusara Fatmawati.
Guruh Soekarnoputra meninggal pada usia 73 tahun, tetapi karya-karya yang lahir dari perjalanan panjangnya di dunia seni dan politik menjadi bagian dari rekam jejak kebudayaan dan kehidupan publik Indonesia.
Sumber: Berandaindonesia.com dan sumber lainnya.