Di Tangan Pemerintah, Indonesia (tidak) Berdaulat Adil Makmur

Indonesia Berdaulat Adil Makmur

Di tangan pemerintahan Prabowo Subianto, Indonesia (tidak) Berdaulat Adil dan Makmur. (Foto: Didesain oleh Akal Imitasi (AI))

Sorotan Redaksi

  • Akumulasi Keresahan
  • Lebih dari Teks Delapan Tuntutan
  • MBG dan PSN Menjadi Simbol Pertarungan Prioritas
  • Benturan Mahasiswa dan Aparat dapat Menjadi Isu Sensitif
  • Pemerintah Belum Tentu Sedang Hadapi Krisis Politik
  • Apa Momentum 31 Agustus itu?
  • Sorotan Redaksi

Aksi mahasiswa pada 18 Agustus 2026 di Jakarta layak dibaca lebih dari sekadar demonstrasi sehari setelah perayaan Hari Kemerdekaan. Di balik tajuk “Merebut Kemerdekaan”, terdapat pesan politik yang cukup terang: sebagian mahasiswa menilai perayaan kemerdekaan oleh negara banyak yang tidak sesuai kenyataan ekonomi, keadilan sosial, demokrasi, dan kebebasan sipil.

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah elemen mahasiswa kembali turun ke jalan dan membawa delapan tuntutan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Tuntutan itu mencakup:

  • penghentian korupsi,
  • kolusi dan nepotisme,
  • reforma agraria,
  • penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM,
  • evaluasi total Proyek Strategis Nasional (PSN),
  • penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih,
  • persoalan Transfer ke Daerah,
  • penghentian apa yang mereka sebut sebagai tindakan represif serta intervensi TNI-Polri di ruang sipil.
Baca Juga  Prabowo Tegur Polri hingga Jaksa: Jangan Pernah Lupa Kalian Milik Rakyat

Inilah yang membuat aksi tersebut memiliki bobot politik. Mahasiswa tidak sedang memperkarakan satu kebijakan saja atau secara terpisah. Mereka mengintegrasikan persoalan ekonomi, tata kelola pemerintahan, pemberantasan korupsi, pembangunan, hubungan pemerintah pusat-daerah, dan demokrasi ke dalam satu kritik tentang Arah Pemerintahan.

Dengan kata lain, kritik telah bergerak dari narasi “apa yang salah dengan kebijakan pemerintah?” menjadi pertanyaan yang lebih mendasar: “Pemerintahan ini sedang membawa negara ke mana?”

Akumulasi Keresahan

“Aksi 18 Agustus” ini, kurang lebih begitulah nama yang kami berikan, juga tidak muncul dari ruang kosong. Sebelumnya, mahasiswa telah melakukan aksi pada Juni 2026. Karena itu, Aksi 18 Agustus ini lebih tepat dibaca sebagai kelanjutan dari proses konsolidasi keresahan dan kegelisahan yang masih berjalan. Beberapa laporan menyebut aksi ini diposisikan sebagai kelanjutan berbagai aksi gerakan mahasiswa sebelumnya.

Baca Juga  DPR Desak UI Tegas Tangani Kasus Pelecehan Seksual 16 Mahasiswa FH

Lebih dari Teks Delapan Tuntutan

Delapan tuntutan yang dibawa aksi mahasiswa sekarang ini memperlihatkan pelebaran atau pergeseran medan kritik. Mari kita telisik satu per satu lebih lanjut.

News