Déjà vu Persaingan SYL-IAS dan IAS-Appi

Persaingan IAS Appi

Designed By AI

Yang mungkin bisa dicatat sebagai pembeda antara Musda Golkar Sulsel VIII 2009 dan XI 2026 adalah pengerahan kekuatan massa masing-masing kandidat dan cara DPP Golkar bersikap terhadap kandidat yang bertarung. Ada juga perbedaan disiplin waktu pelaksanaan musda yang juga berbeda dengan saat ini.

Musda 2009, SYL maupun IAS, sama-sama mengerahkan ratusan massa fanatik dan militan. Kedua kubu massa saling berhadapan dalam jarak yang berbahaya, dan dengan determinasi tinggi. Sementara Musda 2026, hanya IAS yang kerahkan ratusan massa fanatik dan militannya di arena musda Hotel Claro. Appi tidak mengerahkan massa fanatik dan militannya. Appi sudah memahami sejak sebelum pelaksanaan Musda dimulai, bahwa yang ia lawan bukanlah IAS, tetapi melawan kehendak DPP Golkar. Appi juga tidak hadir di arena, tidak sebagaimana halnya IAS pada Musda 2009, dimana IAS hadir langsung di ruang sidang Musda di Hotel Sedona.

Selanjutnya, ada juga perbedaan sikap DPP terhadap kandidat yang bertarung. Pada musda 2009, DPP Golkar di bawah ketum Aburizal Bakrie tidak menunjukkan sikap unfavourable-nya kepada IAS dan favourable kepada SYL, baik sebelum musda maupun saat musda berlangsung.

Sementara pada Musda 2026, sikap DPP dalam hal ini ketum Bahlil melalui rekomendasi diskresi untuk IAS, langsung menyatakan keberpihakannya secara terang dan lantang, tanpa perlu penafsiran. Pesan Bahlil ini tidak perlu lagi diolah, karena sudah tidak ada keraguan di dalamnya, sudah bisa langsung dieksekusi seperti kopi saset.

Perbedaan selanjutnya adalah antara disiplin tahapan pemenangan Pemilu era Aburizal Bakrie dan era Bahlil Lahadalia. Era Aburizal, tahapan pemenangan tidak bisa menunggu musda daerah yang belum ada calon ketuanya yang direstui DPP. Ini contoh tahapan yang disiplin, 2010 adalah tahapan restrukturisasi dan konsolidasi organisasi. Musda provinsi dan kabupaten/kota tidak boleh melewati tahun 2010 itu, karena sepanjang 2011 tahun berikutnya adalah tahapan kaderisasi dan revitalisasi organisasi kader, seperti hasta karya, Kino dan sayap.

Tahun 2012 adalah pelaksanaan program kerja kekaryaan partai. Tahun 2013 adalah tahun program mesin pemenangan. Tahun 2014 adalah tahun eksekusi Pemilu, baik pemilu legislatif maupun pemilu Pilpres. Jadi waktu karena disiplin tinggi, musda provinsi dan kabupaten/kota tidak bisa ditunda ke 2011 hanya menunggu munculnya calon ketua DPD titisan dari langit DPP dan ketum.

Baca Juga  Era Jokowi, Infrastruktur Gagah, Kesejahteraan Gagap

Sementara di era Bahlil Lahadalia saat ini, termasuk era Setya Novanto dan Airlangga Hartarto sebelumnya, disiplin tahapan pemenangan pemilu bukan lagi penentu jadwal musda yang harus sesuai tahun tahapannya. Di masa Setya Novanto dan Airlangga Hartarto, sepanjang 2014 hingga 2019 atau 2020, tidak ada musda Golkar Sulsel untuk memilih ketua. Itu karena DPP tidak menemukan figur yang diinginkan. Yang banyak adalah figur yang tidak diinginkan.

Maka sepanjang lima tahun itu, 2014-2019, DPP tidak mengeluarkan jadwal musda untuk Sulsel. Pada Agustus 2020, DPP baru keluarkan jadwal Musda Sulsel, yang berlangsung di Jakarta 7 Agustus 2020 yang menghasilkan Taufan Pawe sebagai ketua DPD Golkar Sulsel.

Yang terjadi pada era Bahlil, tahapan itu bukan penentu, tidak sakral. Saat ini, misalnya, Golkar Sulsel mestinya melaksanakan Musda 2025. Tapi karena Musda itu tidak mesti 2025, maka pertengahan 2026 pun juga adalah waktu yang bagus, terutama setelah terompet Diskresi untuk IAS ditiup oleh Bahlil. Padahal seharusnya 2026 adalah tahun kaderisasi dan revitalisasi organisasi kader. Indisiplin tahapan ini memudahkan DPP menyesuaikan jadwal musda setelah munculnya calon titisan DPP, sekalipun kemunculannya nanti pada tahun 2029 atau 2030, misalnya.

Kembali lagi pada rivalitas. Perbedaan dalam rivalitas SYL-IAS dan IAS-Appi yang belum terbaca dengan jelas adalah jalur keluar dari Partai Golkar. Waktu itu, sebagaimana saya jelaskan di atas, IAS keluar meningalkan Partai Golkar setelah Musda. Tindakan itu dilakukan IAS agar tidak ada dua matahari di Golkar Sulsel. Atau kalau mungkin karena mataharinya IAS tidak bisa lebih terang dari mataharinya SYL.

Pasca Musda VIII Golkar Sulsel itu, IAS mungkin memandang palagan politik di Sulsel itu jauh lebih lebar daripada Golkar Sulsel. Dengan senyap dan tanpa sorak, IAS lenyap palagan Partai Golkar. Ia menggabungkan diri bersama Surya Paloh membuka palagan baru di Sulsel, yakni Ormas Nasional Demokrat (Nasdem).

Sementara pasca Musda 2026, klarifikasi Appi bahwa ia tetap di Golkar (tidak meninggalkan Golkar) belum terkonfirmasi secara mendalam dan meyakinkan. Berberapa media memang berhasil mendapatkan pengakuan bahwa Appi masih tetap di Golkar, meski dirinya gagal menjadi calon ketua pada Musda Golkar Sulsel tahun ini.

Baca Juga  Abdul Hayat Resmi Jabat Plt Ketua DPW Perindo Sulsel, Siap Keliling 24 Kabupaten Kota di Sulsel

Appi masih tetap di Golkar. Saya pikir itu adalah pernyataan Appi yang belum lengkap. Dia akan melengkapi pernyataan itu setelah pulang dari ibadah Umrah, pernyataan yang akan mengubah peta politik Sulawesi Selatan. Bahwa, Appi memilih berkompetisi (kata lain dari Bertarung) dengan IAS secara antar partai daripada berkompetisi di dalam internal partai Golkar.

Atau, ini juga bisa menjadi pertanda (jika tetap di Partai Golkar) bahwa Appi tidak punya kapasitas diri untuk menjadi matahari terang di Golkar Sulsel, bersaing dengan mataharinya IAS sendiri (dalam hal ini, matahari kembar). Karena itu, ia tetap bertahan di Golkar, di bawah bayang-bayang IAS. Appi mungkin belum kapabel untuk bersikap seperti IAS pada Musda Golkar Sulsel 2009 itu, berani mengeluarkan Golkar Sulsel yang dipimpin SYL dari lingkarannya.

Dengan kata lain, Appi belum bisa melihat palagan politik Sulawesi Selatan itu lebih lebar daripada palagan Golkar Sulsel, sebagaimana IAS pernah melihat palagan politik Sulawesi Selatan lebih lebar pada 2009 itu. Waktu itu, IAS menjabat walikota Makassar, seperti halnya Appi sekarang juga menjabat walikota Makassar. Dapat dikatakan bahwa Appi sebenarnya punya kapasitas untuk mengeluarkan Partai Golkar dari dalam lingkaran politik, seperti yang dilakukan IAS pada tahun 2009 itu.

Dengan perlahan pasca Musda baru-baru ini, IAS akan membangun dirinya sekokoh mungkin di Golkar Sulsel, yang pada giliran dan pada akhirnya ia tidak membutuhkan lagi Appi di Golkar Sulsel dan untuk Golkar Makassar. Artinya, Appi bisa tetap tinggal di Partai Golkar tanpa peran dan guna. Bisa juga keluarkan partai Golkar dari dalam lingkaran politiknya sebagaimana IAS pernah lakukan dahulu kala.

Saya memahami setelah Musda Golkar Sulsel 2009 waktu itu, SYL mungkin sudah yakin tidak membutuhkan IAS lagi, sekalipun di atas panggung selalu mengaku bahwa dirinya dan IAS tidak bisa dipisahkan. Pasca Musda Golkar 2026 ini, seharusnya IAS juga punya keyakinan seperti SYL tadi, bahwa pada dasarnya IAS tidak membutuhkan lagi keberadaan Appi di Golkar Sulsel dan di Partai Golkar.

News