Dalam deretas perusahaan dan bisnis ini, Sudaryono mengeruk banyak pengalaman bisnis. Misalnya bagaimana mengelola perusahaan di bidang energi, media, teknologi, pertahanan, hingga farmasi dan lainnya. Pengalaman itu membuatnya menemukan talenta menangani organisasi bisnis dalam skala besar serta lintas sektor, nasional maupun internasional.
Pada pertengahan 2025, Sudaryono juga dipercaya sebagai Komisaris Utama PT Pupuk Indonesia (Persero). Jabatan ini memperkuat keterlibatan Sudaryono dalam sektor pangan nasional dan segala yang terkait dengan masalah pangan.
Kiprah Organisasi Ekonomi Rakyat
Selain aktif di dunia usaha dan bisnis, Sudaryono juga dikenal dekat dengan organisasi masyarakat yang sifat ekonomi kerakyatan. Ia dipercaya menjadi Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) sejak 2021 serta Ketua Dewan Pembina Pedagang Pejuang Indonesia Raya (Papera), organisasi sayap Partai Gerindra.
Melalui APPSI, ia mendorong modernisasi pasar tradisional agar mampu bersaing dengan ritel modern dan perdagangan yang berbasis digital. Salah satu gagasannya adalah memperluas penggunaan metode pembayaran digital melalui QRIS di pasar-pasar tradisional maupun pasar-pasar modern yang sistem pembayarannya belum digital.
Ia juga aktif mengadvokasi kepentingan pedagang. Sudaryono selalu memberikan perhatian kepada persoalan retribusi pasar, akses pembiayaan usaha mikro, stabilitas harga bahan pokok hingga penguatan kapasitas usaha kecil atau UMKM.
Menyatukan HKTI
Di sektor pertanian, Sudaryono menjabat Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia dan aktif dalam Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).
Salah satu etape penting dalam perjalanan organisasinya, terjadi pada Juni 2025. Ketika itu, Sudaryono terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional HKTI periode 2025–2030. Waktu itu, HKTI baru saja melewati masa panjang dualisme kepengurusan. Terpilihnya Sudaryono diterima berbagai kelompok dan faksi dalam HKTI, dan kemunculannya sebagai ketua terpilih pada organisasi tersebut, membuat dualime kepemimpinan HKTI kembali bersatu.
Di bawah kepemimpinannya, HKTI diarahkan menjadi organisasi yang tidak sekadar menjalankan aktivitas administratif belaka. Tetapi HKTI hadir langsung di tengah-tengah petani sebagai mitra pemerintah.
Ia mengusung filosofi kerja “Ora Keset”, istilah dalam bahasa Jawa yang berarti tidak malas. Sudaryono mewujudkan filosofi tersebut melalui kebiasaan turun langsung ke sawah, berdialog dengan petani, serta memastikan berbagai kebijakan pertanian benar-benar sampai berdampak kepada masyarakat.
Posisinya sebagai Wakil Menteri Pertanian sekaligus Ketua Umum HKTI, juga memudahkan sinkronisasi antara program pemerintah dengan kebutuhan dan permasalahan petani di lapangan. Sudaryono memberikan perhatian besar (atensi) terhadap sistem penyaluran pupuk bersubsidi, peningkatan produksi pangan, digitalisasi pertanian, hingga penguatan kelembagaan kelompok tani.
Sudaryono juga melibatkan HKTI dalam memperkuat rantai pasok bahan baku Program MBG melalui pemberdayaan petani lokal agar hasil produksinya terserap secara berkelanjutan.