Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan Publik terhadap Prabowo

Survei Kepuasan Publik Prabowo

Sketsa perberdaan dua lembaga lembaga survei dan dua hasil yang berbeda tentang kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. (Foto: dibuat oleh Akal Imitasi atau AI)

Dengan demikian, perbedaan sesungguhnya bukan hanya pada 11,9 poin persentase pada angka kepuasan semata. Perbedaan yang lebih penting adalah gambaran mengenai jarak antara kelompok yang puas dan yang tidak puas.

Dalam survei IPO, kelompok puas masih memiliki keunggulan 28 poin persentase. Dalam survei SMRC, keunggulan itu menyusut menjadi hanya 4,2 poin. Secara politik, dua situasi keunggulan ini tentu menghasilkan atmosfer yang berbeda.

Angka 63 persen menunjukkan bahwa mayoritas publik masih memberikan penilaian positif terhadap presiden. Namun, angka 51,1 persen menunjukkan bahwa pemerintahan Prabowo telah memasuki wilayah yang jauh lebih kritis: kelompok puas masih lebih besar, tetapi kelompok tidak puas makin mendekati kelompok puas.

Karena itu, jika hasil kedua survei dibaca secara bersamaan, pesan politik yang muncul bukanlah bahwa publik sudah meninggalkan Prabowo. Pesannya lebih tepat dirumuskan sebagai dukungan publik masih ada, tetapi ruang kepercayaan tersebut mulai menyempit.

Ekonomi Menjadi Titik Krusial

SMRC memberikan penjelasan yang cukup kuat mengenai penyebab penurunan tersebut. Menurut SMRC, memburuknya persepsi publik terhadap kondisi ekonomi merupakan faktor utama pnurunan. Hampir separuh responden, 49,4 persen, menilai kondisi ekonomi nasional buruk atau sangat buruk. Hanya 15,7 persen yang menilai ekonomi baik atau sangat baik.

Baca Juga  Ahmad Muzani Beri Sinyal Indonesia Bisa Keluar dari Dewan Perdamaian Gaza

Temuan ini menarik karena persepsi masyarakat mengenai ekonomi tidak selalu identik dengan indikator makroekonomi. Pemerintah dapat menunjukkan pertumbuhan ekonomi, investasi, pembangunan infrastruktur, maupun indikator fiskal pada tertentu.

Namun, jika masyarakat merasa harga kebutuhan meningkat, pekerjaan sulit, pendapatan tidak bertambah, atau daya beli melemah, maka persepsi terhadap ekonomi dapat tetap menjadi negatif. Dalam politik, persepsi semacam ini memiliki konsekuensi langsung terhadap tingkat kepuasan kepada presiden.

SMRC juga menemukan persoalan pada penilaian publik terhadap kondisi politik dan penegakan hukum. Hanya 13,5 persen responden yang menilai kinerja politik Prabowo baik, sedangkan 42,8 persen menilainya buruk atau sangat buruk. Penilaian negatif terhadap penegakan hukum juga cukup tinggi, dengan 37,6 persen responden menilai kondisinya buruk atau sangat buruk.

Jika temuan tersebut konsisten dari satu survei ke survei berikutnya, pemerintah tidak hanya menghadapi persoalan komunikasi publik. Ada persoalan yang lebih substantif, yakni bagaimana kebijakan pemerintah dipahami oleh masyarakat berdasarkan kehidupan sehari-hari.

Mengapa Hasil Survei Bisa Berbeda

Jawabannya atas pertanyaan ini tentu tidak sederhana. Survei opini publik adalah pengukuran terhadap sampel, bukan survei kepada seluruh penduduk. Karena itu, desain sampel, periode pengumpulan data, metode wawancara, karakteristik responden, redaksi pertanyaan, hingga pembobotan data dapat menentukan hasil akhir.

Baca Juga  Prabowo dan PM Modi Luncurkan Kolaborasi Indonesia-India untuk Konservasi Candi Prambanan

IPO misalnya, menjelaskan bahwa lembaganya menggunakan prinsip probabilitas dalam penarikan sampel dan teknik multistage random sampling. Dalam publikasi metodologinya, IPO menyebut teknik tersebut digunakan untuk memberikan peluang yang setara kepada unit populasi untuk dipilih menjadi responden.

Dalam survei nasional IPO pada Oktober tahun 2025 misalnya, lembaga itu menggunakan “stratified multistage random sampling” dengan 1.200 responden, “margin of error” ±2,90 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Pengambilan responden dilakukan secara bertingkat, dari kelurahan atau desa hingga keluarga dan individu.

Sementara, SMRC juga memiliki tradisi survei probabilitas dan telah lama melakukan penelitian opini publik di Indonesia. Survei Juli 2026 menggunakan 749 responden dan menghasilkan “margin of error” sekitar ±3,7 persen.

Dengan demikian, perbedaan angka tidak cukup untuk menjelaskan mana dari survei yang “ilmiah” dan yang “tidak ilmiah”. Yang harus diperiksa adalah desain masing-masing survei. Termasuk di dalamnya adalah redaksi pertanyaan.

IPO menggunakan kategori “sangat puas”, “puas”, “tidak puas”, dan “sangat tidak puas”. SMRC menggunakan kategori “sangat puas”, “cukup puas”, “kurang puas”, dan “tidak puas sama sekali”.

Sekilas kategori tersebut sama. Namun, dalam penelitian survei, perbedaan redaksi dapat memengaruhi cara responden mengelompokkan dirinya.

News