Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan Publik terhadap Prabowo

Survei Kepuasan Publik Prabowo

Sketsa perberdaan dua lembaga lembaga survei dan dua hasil yang berbeda tentang kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. (Foto: dibuat oleh Akal Imitasi atau AI)

Karena itu, perbandingan yang sehat harus dilakukan dengan membaca kuesioner secara utuh, bukan hanya berdasarkan angka yang muncul dalam judul berita.

Reputasi: SMRC Punya Keunggulan Historis

Dalam hal reputasi, IPO dan SMRC tidak berada dalam posisi yang sepenuhnya sama. SMRC memiliki tradisi yang lebih panjang dalam survei politik dan riset opini publik. Lembaga ini didirikan oleh Saiful Mujani, akademisi yang dikenal luas dalam dunia penelitian perilaku politik dan survei elektoral di Indonesia.

Pengalaman panjang di atas memberikan SMRC modal reputasi akademik yang kuat. Publik juga telah mengenal lembaga ini melalui berbagai survei politik, pemilu, elektabilitas kandidat, kepuasan terhadap pemerintah, serta penelitian mengenai kondisi sosial-politik lainnya.

Sedangkan IPO, lembaga survei memiliki rekam jejak yang lebih muda, tetapi bukan berarti dapat diabaikan. Lembaga yang dipimpin Dedi Kurnia Syah tersebut telah beberapa tahun dan beberapa kali melakukan survei politik nasional, dengan pendekatan probabilitas dan “multistage random sampling” juga. Metodologi yang dipublikasikan IPO juga mencantumkan mekanisme pengujian dan kontrol kualitas, seperti halnya SMRC

Karena itu, dari sisi reputasi akademik dan panjang pengalaman, SMRC memiliki keunggulan. Namun, dari sisi metodologi dasar, IPO juga menggunakan pendekatan survei yang lazim dalam penelitian opini publik. Dengan demikian, reputasi tentu tidak bijak digunakan sebagai pengganti pemeriksaan data.

Baca Juga  DPRD dan Gubernur Sulsel Saling Boikot

Integritas adalah Persoalan Sensitif

Dalam setiap survei politik, selalu muncul pertanyaan: apakah lembaga survei benar-benar independen? Apakah hasilnya dipengaruhi oleh kepentingan politik? Siapa yang membiayai survei tersebut? Apakah ada sponsornya? Apakah pertanyaan survei dirancang secara purposive atau tidak? Pertanyaan seperti ini penting dan tidak tabu.

Namun, jawabannya tidak boleh dibangun berdasarkan dugaan semata. Lembaga survei yang menghasilkan angka tinggi untuk pemerintah belum tentu pro-pemerintah. Sebaliknya, lembaga yang menghasilkan angka rendah belum tentu anti-pemerintah.

Dalam kasus SMRC, perdebatan mengenai posisi politik pendiri atau tokoh-tokoh di sekitar lembaga tersebut juga tidak cukup untuk membuktikan bahwa data surveinya tidak valid atau anti pemerintah. Hal yang sama juga berlaku untuk lembaga survei IPO.

Ukuran integritas lembaga survei, seharusnya diletakkan pada tradisi transparansinya. Lembaga yang kredibel, idealnya selelu membuka diri tentang siapa pelaksana survei, periode penelitian, jumlah responden, metode sampling, margin of error, tingkat kepercayaan, teknik wawancara, serta redaksi pertanyaan. Semakin terbuka informasi-informasi ini, semakin mudah bagi publik dan komunitas akademik untuk menguji hasilnya.

Apa Yang Harus Diperhatikan Pemerintahan Prabowo?

Terlepas dari perbedaan angka, pemerintah seharusnya tidak memilih survei berdasarkan mana yang paling menguntungkan. Jika pemerintah hanya menggunakan angka IPO sebesar 63 persen untuk menyimpulkan bahwa kepuasan publik masih tinggi, ada risiko mengabaikan sinyal peringatan dari SMRC.

Baca Juga  Eks Wamenaker Noel Akui Terima Gratifikasi Rp3 Miliar dalam Kasus Sertifikat K3

Sebaliknya, jika pemerintah hanya berpegang pada angka SMRC sebesar 51,1 persen, pemerintah juga dapat kehilangan informasi bahwa masih terdapat basis mayoritas publik yang memberikan penilaian positif.

Artinya, kedua survei di atas justru dapat memberikan dua lampu indikator kepada pemerintahan Prabowo. IPO menunjukkan bahwa basis kepuasan masih kuat. SMRC menunjukkan bahwa basis tersebut sedang mengalami tekanan. Keduanya tidak harus saling meniadakan.

Bahkan, bila angka IPO benar menunjukkan penurunan dibanding survei sebelumnya, temuan tersebut memiliki titik temu dengan SMRC pada satu hal penting: arah kepuasan publik sedang bergerak turun (tren negatif). Perbedaan utama yang perlu dieksploitasi adalah seberapa dalam penurunan tersebut. Bukan seberapa tinggi kepuasan atau ketidakpuasan.

Angka Mana yang Harus Dipercaya

Pertanyaan itu sering muncul setiap kali dua lembaga survei menghasilkan angka berbeda, angka yang mana yang sebaiknya dipercaya. Jawabannya tentu bukan memilih angka yang paling disukai.

Untuk golongan masyarakat kritis atau publik, yang seharusnya diperhatikan adalah konsistensi metodologi dan tren dari waktu ke waktu. Jika survei berikutnya dari IPO kembali menunjukkan penurunan dan bergerak mendekati angka SMRC, maka indikasi reduksi kepuasan publik akan semakin kuat.

News