Setelah Dua Tahun, Elektabilitas Prabowo Tinggal 9.8 Persen

Elektabilitas Prabowo 9.8 Persen

Simulasi semi terbuka (24 nama), Dedi Mulyadi meraih dukungan paling tinggi 35.5%, kemudian Anies Baswedan 10.3%, Prabowo Subianto 9.8%, Gibran Rakabuming Raka 8.4%, Purbaya Yudhi Sadewa 5%, dan Ganjar Pranowo 5%, nama lain dukungannya masih kurang dari 3%. Massa mengambang ada 13.9%. (Gambar: SMRC)

Berandaindonesia.com, Jakarta–Elektabilitas Presiden Prabowo Subianto turun drastis dalam setahun terakhir. Dalam simulasi semi terbuka, dukungan pada Prabowo jatuh dari 34.9 persen pada November 2025 menjadi hanya 9.8 persen pada Oktober 2026.

Demikian temuan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk “Elektabilitas Presiden Prabowo”. Survei terakhir dilakukan pada 1-10 Oktober 2026. Hasil survei ini disampaikan Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, di kanal YouTube SMRC TV pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Dalam simulasi semi terbuka dengan 24 nama, Dedi Mulyadi meraih dukungan paling tinggi, 35.5 persen. Ia disusul Anies Baswedan 10.3 persen, Prabowo Subianto 9.8 persen, dan Gibran Rakabuming Raka 8.4 persen. Nama-nama lain mendapat dukungan di bawah 6 persen, dan yang belum menentukan pilihan sebanyak 13.9 persen.

Deni menjelaskan, posisi Prabowo dan Dedi Mulyadi berbalik dalam setahun terakhir. Pada November 2025, Prabowo masih unggul dengan 34.9 persen, sementara Dedi Mulyadi 19.7 persen. Pada Februari-Maret 2026, Prabowo masih di 33.3 persen.

Angka itu turun menjadi 14.5 persen pada Juli 2026 dan 9.8 persen pada Oktober 2026. Sebaliknya, pada periode yang sama elektabilitas Dedi Mulyadi naik menjadi 35.5 persen.

Pola yang sama terlihat dalam simulasi dua nama. Jika yang maju hanya Dedi Mulyadi dan Prabowo Subianto, Dedi mendapat 69.3 persen, jauh di atas Prabowo yang hanya mendapat 18.8 persen. Yang belum tahu 12 persen.

Deni menunjukkan bahwa elektabilitas Prabowo Subianto dan Dedi Mulyadi dalam simulasi dua nama, saling berbalik secara tajam dalam tujuh bulan terakhir.

Pada survei Februari-Maret 2026, Prabowo masih unggul dengan dukungan 50.5 persen, sementara Dedi Mulyadi 42.6 persen. Pada Juli 2026, keadaannya berbalik: Dedi naik menjadi 59 persen, sedangkan Prabowo turun ke 28.3 persen.

Baca Juga  Banjir dan Tanah Longsor Landa Sinjai, BPBD Imbau Warga Waspada

Pada survei Oktober 2026, Dedi Mulyadi mendapat 69.3 persen, sementara Prabowo hanya 18.8 persen.

“Dalam tujuh bulan, dukungan pada Prabowo dalam simulasi dua nama turun hampir 32 poin, sementara Dedi Mulyadi naik hampir 27 poin,” jelas Deni.

Simulasi Tanpa Dedi Mulyadi

Deni melanjutkan bahwa jika Dedi Mulyadi tidak maju karena sejumlah alasan, misalnya karena dia adalah kader Gerindra yang sama dengan Prabowo, perlu dilihat seberapa kuat Prabowo bila melawan calon lain.

Karena itu, SMRC juga menguji simulasi tiga nama tanpa Dedi Mulyadi: Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming Raka, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Deni lebih jauh menjelaskan mengapa Gibran dan AHY melawan Prabowo dalam simulasi ini.

Deni menyatakan bahwa elektabilitas Gibran dalam simulasi semi terbuka imbang dengan Prabowo. Dia juga Wapres, dan punya hubungan kuat dengan PSI yang mungkin bisa mencalonkannya. AHY juga punya partai, dan mungkin bisa mencalonkan.

Karena itu, menurut Deni, simulasi tiga nama ini dinilai cukup realistis dan (yang lebih penting) relevan untuk menguji kekuatan elektabilitas Prabowo ketika Dedi Mulyadi tidak ikut bersaing.

Hasilnya, Gibran mendapat 29.7 persen, AHY 28.2 persen, dan Prabowo 22.7 persen. Yang belum tahu 19.4 persen.

“Elektabilitas Prabowo tidak berubah menjadi sangat kuat ketika Dedi Mulyadi tidak ikut bersaing. Suara Dedi ternyata lebih banyak ditarik Gibran dan AHY dibanding Prabowo. Dukungan kepada Prabowo sebagai petahana sangat lemah. Jika pemilihan presiden diadakan sekarang, dia bisa dikalahkan oleh calon-calon lain dan yang maju ke putaran kedua kemungkinan adalah AHY dan Gibran” jelas Deni.

Baca Juga  Di Tangan Pemerintah, Indonesia (tidak) Berdaulat Adil Makmur

Lemahnya dukungan pada Prabowo juga terlihat di kalangan pemilih partai, termasuk pemilih partai-partai yang elitnya sudah menyatakan dukungan pada pada Prabowo seperti Gerindra, Golkar, PAN, dan PKB. Hanya 20 persen pemilih Gerindra yang memilih Prabowo dalam simulasi semi terbuka, sementara 74 persen memilih calon lain.

Di kalangan pemilih partai Golkar hanya 17 persen, PAN 8 persen, dan PKB 4 persen. Sementara pada pemilih Nasdem 11 persen, Demokrat 6 persen, PDIP 6 persen, dan PKS 2 persen.

Elektabilitas Prabowo Anjlok Karena Kinerjanya

Deni menambahkan bahwa penurunan tajam elektabilitas Prabowo berhubungan dengan kinerjanya sebagai presiden.

“Penurunan ini sangat berhubungan dengan kepuasan atas kinerja presiden, dengan kondisi makro ekonomi-politik dan penegakan hukum yang dinilai publik buruk, dengan kinerja pemerintah mengatasi masalah-masalah mendesak, serta dengan penilaian negatif atas program MBG dan KDMP,” kata Deni.

Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. Populasi dibagi menjadi dua kelompok (subpopulasi).

Pada subpopulasi pemilik handphone, sampel sebanyak 1.013 orang dipilih secara acak dengan metode double sampling dan responden diwawancara lewat telepon.

Sementara pada subpopulasi yang tidak punya handphone, sampel sebanyak 200 orang dipilih secara acak dengan metode “stratified multistage random sampling” dan responden diwawancara secara tatap muka.

Total sampel yang diwawancara sebanyak 1213 responden. Margin of error survei diperkirakan +/- 2.9% pada tingkat kepercayaan 95%, asumsi simple random sampling.

Sumber: SMRC

News