Ingin Jadi Penulis, Wahyuddin Halim Justru Bernasib Profesor

Wahyuddin Halim

Wahyuddin Halim, Prof. Drs, MA, MA, Ph.D., dosen dan peneliti pada Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. (Dok. Foto: ist)

Berandaindonesia.com, Makassar — Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar akan menggelar Sidang Senat Terbuka Luar Biasa hari ini, Selasa (28/4/2026) di Auditorium Kampus II Romangpolong, Gowa.

Dalam forum akademik tersebut, Prof. Drs. Wahyuddin Halim, M.A., M.A., Ph.D menjadi salah satu dari tiga akademisi yang akan mendapatkan pengukuhan sebagai Guru Besar tetap dalam bidang Antropologi Agama pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.

Pengukuhan Wahyuddin ini akan menjadi momentum intelektual di UIN Alauddin Makassar. Momentum ini akan memberikan refleksi mendalam tentang hubungan antara agama, budaya, dan pembentukan karakter manusia.

Peraih gelar akademik Ph.D. dari Australian Nasional University (ANU) ini memilih judul pidato pengukuhan “Siri’ na Sara’: Moralitas Lokal, Paradoks Kesalehan, dan Ikhtiar Penubuhan Islam (Perspektif Antropologi Agama)”. Tema ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, namun jarang dibahas secara kritis.

Baca Juga  Andi Jamarro: Tidak Ada Judi Dalam Domino

Beberapa hari sebelumnya, naskah pidato ini sudah menyebar secara digital. Salah satu pertanyaan sederhana tetapi menggugat dalam pidato ini: mengapa dalam masyarakat yang dikenal religius, tapi praktik ketidakjujuran dan ketidakadilan masih terus berlangsung?

Pertanyaan ini akan menjadi pintu masuk untuk membahas apa yang ia sebut sebagai “paradoks kesalehan”, yakni jarak antara kesalehan ritual dan integritas moral dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa saat nanti, Prof. Wahyuddin akan mengurai konsep siri’, nilai dasar dalam budaya Bugis-Makassar. Nilai ini berkaitan dengan harga diri dan martabat, lalu mempertemukannya dengan sara’ atau ajaran Islam.

Ia akan menunjukkan bahwa keduanya tidak berdiri sendiri sebagai adat dan agama yang terpisah. Keduanya justru dapat dipahami sebagai satu kesatuan moral yang saling menguatkan.

Baca Juga  Menkeu Purbaya dan Misbakhun Tepis Isu Ketegangan Hubungan

Wahyuddin menawarkan konsep “Siri’ na Sara’” dalam kerangka ini sebagai model integrasi antara nilai kultural dan spiritual. Itu adalah sebuah cara pandang yang menempatkan agama tidak hanya sebagai ajaran normatif, tetapi juga sebagai karakter yang hidup dalam diri manusia.

Wahyuddin Halim
Brosur Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Profesor Wahyuddin Halim di UIN Alauddin Makassar. (Dok. Foto: Ist)

Bagian lain dalam pidato juga akan mengulas agama yang bekerja dalam tiga fase utama: pewahyuan (tanzil), pemahaman (tafaqquh), dan penubuhan (tajassud).

News