Tantangan terbesar menurut Wahyu, terletak pada fase terakhir, yaitu bagaimana ajaran agama benar-benar menjadi bagian dari watak, bukan sekadar pengetahuan atau praktik formal.
Konsep siri’ masiri’, yang merujuk pada dorongan moral dari dalam diri, akan menjadi salah satu kunci analisis Wahyuddin dalam kerangka pidatonya. Nilai ini akan diposisikan sejajar dengan konsep al-ḥayā’ (rasa malu) dan taqwā dalam Islam, sebagai fondasi pembentukan karakter yang bekerja bahkan tanpa pengawasan eksternal.
Pergeseran Makna Siri’ Saat ini
Di sisi lain, pidato ini juga akan menyinggung dinamika kontemporer yang merujuk pada pergeseran makna siri’ dalam masyarakat modern. Dalam beberapa kasus, dalam pidato Wahyuddin, nilai ini dinilai mengalami reduksi, bahkan disalahartikan sebagai simbol status sosial semata.
Fenomena ini akan dikaitkan dengan krisis transmisi nilai. Yaitu ketika generasi muda tidak lagi mewarisi nilai-nilai moral secara utuh dari lingkungan keluarga dan komunitas. Banyak bagian dari pidato ini mengulas dengan apik dan detail pergeseran ini.
Pada bagian akhir pidato, alumni S2 Dalhausie University, Halifax, Nova Scotia, Canada 1999-2001 ini menawarkan suatu solusi. Konsep Siri’ dan Sara’ penting untuk menekankan pembentukan karakter melalui tiga elemen utama.
Pertama, disiplin praktik yang konsisten, kedua komunitas yang menyediakan keteladanan nyata, dan yang ketiga adalah budaya sebagai medium awal pembentukan nilai. Tanpa ketiga unsur ini, pendidikan agama berpotensi berhenti pada level kognitif dan simbolik.
Pidato ini juga bakal membeberkan curahan hati (curhat) Wahyuddin sebagai sosok akademisi yang menempuh jalan panjang dalam dunia intelektual. Dalam hal ini, ia bukan dengan ambisi mengejar gelar, melainkan dengan kegelisahan untuk memahami persoalan-persoalan mendasar dalam kehidupan beragama.
Mantan penerima Beasiswa S2 Fulbright di Temple University Philadelphia Amerika Serikat 2003-2005 ini mengkui bahwa ia tidak pernah bercita-cita jadi profesor. Cita-cita terbesarnya adalah menjadi penulis buku monumental. Ia punya obsesi, dimana karya tulisnya akan terus dibaca dan menginspirasi sedemikian banyak orang meskipun ia sudah meninggal.
“Sekarang jadi profesor. Perjalanan nasib,” ujarnya singkat kepada berandaindonesia.com, Senin (27/4/2026).