Indonesia Menuju Drifting Economy: Stabilitas Kehilangan Daya Dorong Transformatif

Drifting Economy

Delegasi IKA Fakultas Ekonomi dan Bisnis (IKAFE) Universitas Hasanuddin pada Mubes PP IKA di Makassar, 1-3 Mei 2026. (Dok: Foto: IKAFE Unhas)

SERUAN BULUNGAN
IKAFE Universitas Hasanuddin

“Diagnosis ekonomi” Indonesia saat ini menunjukkan, perekonomian nasional sedang menghadapi persoalan struktural yang semakin kompleks. Jika dianalogikan sebagai seorang pasien, Indonesia masih memiliki organ-organ vital yang bekerja: inflasi relatif terkendali, sistem keuangan masih berjalan, dan aktivitas ekonomi belum sepenuhnya lumpuh. Namun di balik stabilitas permukaan tersebut, tersimpan “komplikasi kronis” yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan jangka pendek, stimulus sesaat, atau narasi optimisme semata.

Fenomena akhir-akhir ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai paradoks stabilitas. Selama dua dekade terakhir, Indonesia berhasil membangun fondasi makro-ekonomi yang relatif kokoh melalui pengendalian inflasi, disiplin fiskal, stabilitas nilai tukar, dan penguatan sektor perbankan. Akan tetapi, stabilitas mulai menunjukkan keterbatasannya dalam mendorong transformasi ekonomi yang lebih progresif.

Baca Juga  45 Tahun Amerika Serikat Baru Bernyali Serang Iran

Benteng stabilitas perlahan berubah menjadi “sangkar” yang membatasi akselerasi produktivitas, inovasi, industrialisasi, dan daya saing nasional. Fondasi yang kuat tanpa diikuti bangunan ekonomi yang produktif hanya akan menghasilkan ruang kosong. Artinya, tantangan terbesar Indonesia hari ini bukan lagi sekadar menjaga stabilitas, melainkan bagaimana mentransformasikan stabilitas menjadi energi penggerak ekonomi yang mampu menciptakan produktivitas tinggi, lapangan kerja berkualitas, serta pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.

Fundamental Makro Ekonomi dan Problem Sinkronisasi

Dalam bentuk paling mendasar, kesehatan makroekonomi suatu negara bertumpu pada sejumlah fundamental yang saling terkait, yaitu:
1. Pertumbuhan ekonomi berbasis produktivitas;
2. Stabilitas harga yang kredibel;
3. Disiplin fiskal yang menjaga ruang pembangunan;
4. Sistem dan pasar keuangan yang tangguh;
5. Neraca pembayaran yang terkendali; serta
6. Institusi yang dipercaya publik dan mampu membentuk ekspektasi ekonomi secara positif.

News