Déjà vu Persaingan SYL-IAS dan IAS-Appi

Persaingan IAS Appi

Designed By AI

Oleh: Maqbul Halim (bekas kader Golkar dan mantan politisi)

Saya ingat kembali, bahwa pernah ada Musyawarah Daerah (Musda) VIII Golkar Sulsel 14-15 Nopember 2009 di hotel Sedona (Hotel Imperial Aryaduta sekarang), yang memperhadapkan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dan Syahrul Yasin Limpo (SYL). Saat itu, IAS menjabat ketua Golkar Sulsel yang melanjutkan periode kepemimpinan Amin Syam sampai 2009.

IAS terpilih melalui pemungutan suara langsung melalui Musdalub (Musawarah Daerah Luar Biasa) 18 Januari 2009. IAS memperoleh 16 suara, sementara Moh. Roem 14 suara. Saat musdalub ini, Muh. Roem menjabat sebagai Plh (Pelaksana Harian) DPD Golkar Sulsel menggantikan Amin Syam yang mengundurkan diri. IAS hanya menjabat ketua Golkar Sulsel selama 10 bulan, karena ia kalah dari SYL pada Musda VIII Golkar Sulsel Nopember 2019 di atas.

Jalan ceritanya, IAS berencana melanjutkan jabatanya ke periode selanjutnya (2009-2014). Ia mendapatkan dukungan 16 ketua DPD kabupaten/kota sebagai pemilik suara. Sementara SYL belum dapat dukungan. Tapi saat Musda digelar, SYL ternyata sudah punya dukungan sebanyak 19 ketua DPD pemilik suara. Ke-19 ketua DPD pendukung SYL dikumpul atau diinapkan di Hotel Clarion (sekarang Claro) Pettarani. Lokasi pelaksanaan musda di Hotel Sedona (sekarang Imperial Aryaduta). Separuh pemilik suara pendukung SYL yang di hotel itu adalah juga merupakan pendukung IAS yang dari 16 ketua DPD itu.

Baca Juga  Pemprov Sulsel Pastikan Pembangunan Akses Jalan Seko Lutra April 2026

Saat Musda dibuka, ada dua pendaftar calon ketua, yaitu IAS dan SYL. Keduanya, pada akhirnya memenuhi syarat dan selanjutnya ditetapkan sebagai calon. Keduanya terus bertahan hingga fase pemilihan calon ketua. Kedua kandidat ini punya persyaratan pribadi jika ingin lanjut tahapan pemilihan.

Saat menyerahkan formulir calon ketua kepada pimpinan Sidang, IAS menyatakan tidak ingin lanjut ke tahap pemilihan jika pemilihan harus secara aklamasi. Ia akan memilih berhenti sebagai calon jika tidak dengan pemungutan suara. IAS pun terus bertahan, bahwa tetap harus ada pemungutan suara, bukan aklamasi.

Lain lagi SYL. Ia memaksakan harus secara aklamasi. Karena pemegang hak suara lebih banyak di pihak SYL secara fisik, maka ia menyarankan forum agar tidak perlu pemungutan suara, karena sudah jelas peta pemilik suara. Karena itulah SYL memandang tidak perlu ada pemungutan suara. Mungkin maksud SYL ada bagusnya, yaitu agar tidak ada pihak yang kalah.

Sidang musda yang dipimpin Nurdin Halid waktu itu, diskorsing beberapa menit (tidak sampai sejam) agar kedua kandidat ini mempunyai waktu untuk berembug, menemukan jalan keluar. Mereka pun bertemu, bicara berdua dalam sebuah ruangan kecil di arena musda. Selain mereka berdua, Nurdin Hali selaku pimpinan sidang juga berembug dengan para pemilik suara untuk mencari cara keluar dari kebuntuan ini.

Baca Juga  Walikota Munafri Tinjau Karya Inovasi Anak Muda Makassar, Sulap Sampah Plastik Jadi BBM

Beberapa menit kemudian, SYL, IAS, Nurdin Halid, dan peserta kembali ke ruang sidang. Sidang dilanjutkan. Forum sidang ternyata menyetujui pemilihan tanpa pemungutan suara. Maka, SYL pun terpilih secara aklamasi.

IAS dan SYL waktu itu tidak memberi komentar usai berembug. Nurdin Halid menyatakan saat mencabut skorsing sidang bahwa pemilihan akan dilakukan secara aklamasi, dan ini disepakati sebagian peserta. Karena keputusan pemimpin sidang itu tidak sesuai aspirasi IAS, maka IAS pun menyatakan menghentikan pencalonannya, dan tidak berlanjut menuju tahap pemilihan. Sikap IAS ini menyebabkan forum hanya menyisakan satu calon, yaitu SYL. Atas dasar itu, Nurdin Halid memutuskan SYL terpilih secara aklamasi, karena hanya SYL satu-satunya calon.

Usai musda, beredar rumor bahwa IAS akan ditempatkan pada posisi ketua harian, membantu SYL. Belakangan waktu itu, IAS menyatakan mundur dan keluar dari Partai Golkar. Saya memahami tindakan IAS waktu itu, mungkin untuk menghindari adanya dua matahari di Golkar Sulsel. Tentu yang paling IAS khawatirkan adalah jika ia ditempatkan pada posisi yang jauh di bawah SYL, posisi yang tidak patut. Setahu saya, IAS tidak punya pikiran untuk ber-Golkar di bawah naungan SYL pada waktu itu.

News