Berandaindonesia.com, Jakarta – Jusuf Kalla menjawab laporan Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) soal tuduhan penistaan agama dengan menegaskan konteks pernyataannya tentang konflik Poso dan Maluku.
JK menyampaikan klarifikasi setelah ia menerima laporan terkait ceramahnya di Masjid UGM. Ia menjelaskan bahwa ia mengacu pada fakta lapangan saat konflik berlangsung. Selain itu, ia menilai banyak pihak salah memahami pernyataannya.
Kemudian, Jusuf Kalla menegaskan bahwa tokoh gereja mengetahui langsung kondisi konflik tersebut. Ia menyebut peran Ketua PGI dalam memahami situasi di lapangan saat itu.
“Nah yang paling paling mengetahui keadaan justru ketua PGI, Persekutuan Gereja Indonesia (Pdt. Jacky Manuputty), dulu ketua sinode di Maluku,” ujar JK sambil memperlihatkan video lain soal konflik, ujarnya.
Selanjutnya, JK menyoroti munculnya tuduhan yang ia anggap tidak berdasar. Ia menilai sejumlah pihak menyebarkan informasi keliru tentang pernyataannya.
“Ini lah suasana yang tidak ada di media, lebih kejam lagi. Lebih parah lagi, orang-orang yang memfitmah saya. Pernah ga ada di situ? Saya ada di situ. Hamid (Awaluddin) ada di situ, Uceng (juru bicara JK Husain Abdullah) sebagai wartawan waktu itu pergi melihat,” kata JK, kata.
Di sisi lain, Jacky Manuputty memberikan pandangan terkait pernyataan JK. Ia menilai konteks sejarah konflik perlu menjadi acuan dalam memahami pernyataan tersebut.
“Pernyataan ini, jika dibaca dalam konteks sejarah konflik Poso dan Maluku, tidak sepenuhnya keliru. Kita tidak dapat menutup mata bahwa pada masa itu agama memang tampil dengan wajah yang terdistorsi,” kata Jacky dalam keterangannya, ujarnya.
Lebih lanjut, Jacky mengaku mengalami langsung dinamika konflik Maluku. Ia melihat praktik keagamaan sering mengiringi aktivitas kelompok yang terlibat konflik.
Dengan demikian, pernyataan JK memicu perdebatan, namun ia tetap menegaskan bahwa ia berbicara berdasarkan pengalaman langsung di lapangan.