Prabowo Undang Menteri Era SBY untuk Serap Pengalaman Perbankan dan Stabilitas Keuangan

Prabowo

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan) bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) menyampaikan keterangan pers usai mengikuti rapat di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (22/5). Foto: ANTARA

Berandaindonesia.com, JakartaPresiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah pejabat ekonomi era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyerap pengalaman menghadapi krisis ekonomi 2008. Pertemuan berlangsung di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat, sebagai bagian dari upaya memperkuat antisipasi ekonomi nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendampingi Presiden bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam pertemuan tersebut.

“Saya didampingi oleh Pak Menteri Keuangan Pak Purbaya, tadi mendampingi Bapak Presiden menerima beberapa tokoh yang pernah menjadi menteri atau gubernur Bank Indonesia,” kata Airlangga.

Selain itu, mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah, mantan Kepala Bappenas Paskah Suzetta, serta mantan Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo juga turut hadir dalam pertemuan tersebut.

Selanjutnya, para tokoh ekonomi membagikan pengalaman menghadapi berbagai gejolak ekonomi selama periode 2004-2014. Mereka menyoroti sejumlah kebijakan yang pernah menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Baca Juga  BI: Pertanian hingga Pertambangan jadi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Sulsel

“Dalam pertemuan tadi para Menteri Era sebelumnya sampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008. Kebetulan mereka rata-rata di periodenya antara 2004 sampai 2014,” kata dia.

Kemudian, pembahasan mengulas lonjakan inflasi dan tekanan nilai tukar akibat kenaikan harga minyak dunia pada 2005. Saat itu, harga minyak dunia mencapai 140 dolar AS per barel dan mendorong inflasi hingga 27 persen.

Namun, Airlangga menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang lebih kuat. Fundamental ekonomi nasional dinilai mampu menghadapi tekanan global dengan lebih baik.

“Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat, dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen. Jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya. Dari situ sebetulnya kita belajar bagaimana mengantisipasi dan apa yang pemerintah perlukan untuk menghadapi situasi-situasi ke depan,” kata Airlangga.

Baca Juga  Sulsel Rakor Hilirisasi Komoditas Prioritas, Kementan Siapkan Anggaran Rp9,95 triliun

Prabowo akan Siapkan Kajian Modal Perbankan Nasional

Karena itu, Presiden meminta jajaran pemerintah memperkuat sektor keuangan dan menjaga kehati-hatian perbankan. Pemerintah juga menyiapkan kajian untuk memperkuat modal perbankan nasional.

“Presiden meminta kami bersama Menteri Keuangan untuk memonitor bagaimana regulasi-regulasi untuk memperkuat situasi finansial dan juga menjaga prudensial dari perbankan kita. Kita memang jumlah perbankan banyak dan mungkin kita perlu kaji bagaimana permodalannya untuk diperkuat,” kata Airlangga.

News