Indonesia Menuju Drifting Economy: Stabilitas Kehilangan Daya Dorong Transformatif

Drifting Economy

Delegasi IKA Fakultas Ekonomi dan Bisnis (IKAFE) Universitas Hasanuddin pada Mubes PP IKA di Makassar, 1-3 Mei 2026. (Dok: Foto: IKAFE Unhas)

Drifting Economy
Sketsa.

Masalah utama Indonesia saat ini bukan semata-mata terletak pada lemahnya satu indikator tertentu, melainkan pada belum terintegrasinya berbagai fondasi secara optimal. Tanpa sinkronisasi yang kuat, indikator makroekonomi hanya akan menjadi “kosmetik ekonomi”: terlihat indah di atas kertas, tetapi tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Ekonomi yang benar-benar transformatif memerlukan setidaknya tiga bentuk integrasi utama:

  1. Integrasi Horizontal, yaitu kemampuan menghubungkan sektor hulu berbasis komoditas dengan sektor hilir berbasis manufaktur dan industri bernilai tambah.
  2. Integrasi Vertikal, yakni Sinkronisasi antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal agar stabilitas suku bunga, nilai tukar, dan pembangunan nasional dapat bergerak searah tanpa saling melemahkan.
  3. Integrasi Sumber Daya Manusia, yaitu Peningkatan kualitas SDM agar pertumbuhan ekonomi tidak berhenti pada angka Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi benar-benar menghasilkan produktivitas tenaga kerja dan kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga  Laporan Seorang Buruh Jadi Kunci OTT Immanuel Ebenezer

Hari ini Indonesia masih berada pada tahap stabilitas yang belum sepenuhnya ditopang oleh fondasi ekonomi yang saling menguatkan. Pertumbuhan ekonomi dan inflasi memang relatif terkendali, tetapi ruang fiskal semakin tertekan akibat lemahnya mobilisasi penerimaan negara dan meningkatnya beban utang. Pada saat yang sama, stabilitas keuangan semakin bergantung pada suku bunga tinggi, intervensi kebijakan, dan sentimen investor.

Tekanan Fiskal dan Ancaman Kerentanan Ekonomi

Disiplin fiskal Indonesia sejatinya memiliki sisi positif. Batas defisit yang diatur undang-undang berhasil menahan ekspansi fiskal berlebihan, sementara rasio utang pemerintah masih tergolong moderat dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.

Namun di balik itu, struktur fiskal nasional menghadapi tekanan yang semakin berat. Penerimaan negara cenderung melemah. Rigiditas belanja membatasi fleksibilitas realokasi anggaran. Subsidi dan berbagai program populis terus menggerus ruang fiskal produktif. Akibatnya, negara mengelola anggaran dalam jumlah besar, tetapi tidak selalu secara strategis dan efisien. Belanja publik belum sepenuhnya diarahkan pada sektor-sektor yang mampu menciptakan efek pengganda ekonomi jangka panjang seperti industrialisasi, pendidikan berkualitas, inovasi teknologi, dan peningkatan produktivitas nasional.

Baca Juga  Tanpa Surat Dukungan IKAFE, Andi Amran Sulaiman Terpilih Kembali

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran: Indonesia sedang berada dalam fase drifting economy—yakni situasi ketika ekonomi tidak mengalami keruntuhan langsung, tetapi bergerak tanpa arah transformasi yang jelas.

Situasi seperti ini sangat berbahaya karena secara perlahan dapat:

  • Menggerus kepercayaan publik;
  • Melemahkan daya tahan ekonomi nasional; serta
  • Meningkatkan risiko instabilitas sosial dan politik di masa depan.

News