Berandaindonesia.com, Yogyakarta – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengaku menangis setelah menonton film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Dalam forum National Policy Dialogue di Balai Senat UGM, Megawati menyoroti alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit serta pentingnya penghormatan terhadap hak masyarakat adat.
Megawati menyampaikan pengakuan itu saat berbicara mengenai kondisi lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam di Indonesia. Menurutnya, perubahan bentang alam berlangsung masif dan memengaruhi kehidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada wilayah adat.
“Saya kemarin menangis ketika melihat film Pesta Babi. Itu benar adanya,”
Selain mengungkapkan kesan emosional terhadap film tersebut, Megawati menilai berbagai wilayah adat memiliki aturan serta tradisi yang wajib memperoleh penghormatan. Karena itu, ia mengingatkan seluruh pihak agar tidak mengabaikan hak masyarakat lokal dalam setiap kebijakan pembangunan.
Megawati kemudian menyoroti keberadaan hukum adat dan batas wilayah adat yang masih menjadi pegangan masyarakat setempat. Ia menegaskan bahwa masyarakat adat memiliki hak untuk mempertahankan nilai, tradisi, dan ruang hidup mereka.
“Di sana ada tradisi adat, ada hukum adat, ada hukum wilayah. Mereka minta dihargai, apakah salah?,”
Selanjutnya, Megawati mengkritik pola pengelolaan sumber daya alam yang berorientasi pada eksploitasi. Menurut dia, pendekatan tersebut memicu kerusakan lingkungan, mempercepat alih fungsi lahan pertanian, serta mengurangi ruang hidup masyarakat adat di berbagai daerah.
Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita rilis pada 2026 melalui produksi Ekspedisi Indonesia Baru. Film itu merekam kehidupan masyarakat adat, terutama di Papua, serta perjuangan mereka mempertahankan hak atas tanah.
Selain itu, film tersebut menyoroti proyek strategis nasional di Papua Selatan. Sejumlah pihak menilai proyek itu berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup dan hak masyarakat adat.