Berandaindonesia.com, Kuala Lumpur–Perjalanan politik Tun Dr Mahathir Mohamad selama lebih dari empat dekade tidak pernah benar-benar terpisah dari sosok Tun Dr Siti Hasmah Mohamad Ali.
Perempuan yang dinikahinya pada 5 Agustus 1956 itu bukan hanya mendampingi Mahathir ketika berada di puncak kekuasaan, tetapi juga melewati masa-masa jatuh bangun karier politik suaminya, dari seorang dokter dan politisi muda hingga dua kali menjadi Perdana Menteri Malaysia.
Siti Hasmah meninggal dunia di Institut Jantung Negara (IJN), Kuala Lumpur, Senin (28/9/2026), dalam usia 100 tahun. Kabar tersebut dikonfirmasi putranya, Tan Sri Mokhzani Mahathir, kepada Kantor Berita Malaysia, Bernama. Ia meninggalkan Mahathir dan tujuh anak mereka.
Kepergian Siti Hasmah menutup perjalanan rumah tangga selama sekitar 70 tahun dengan Mahathir. Keduanya baru merayakan ulang tahun pernikahan ke-70 pada Agustus 2026. Mereka bertemu ketika sama-sama menempuh pendidikan kedokteran di King Edward VII College of Medicine, Singapura, pada akhir 1940-an.

Mahathir sendiri mengenang istrinya bukan sekadar sebagai pendamping kehidupan. Dalam wawancara dengan CNN pada 2018, Mahathir mengatakan Siti Hasmah merupakan tulang punggung keberhasilannya. Mahathir mengagumi keteguhan istrinya dalam memperoleh pendidikan tinggi pada masa ketika hal itu masih jarang dilakukan perempuan Melayu.
“That, I think, reflects her strength of character,” kata Mahathir ketika itu sebagaimana ditulis CNN.
Dari Dokter Perempuan Melayu Hingga Pendamping Politik
Siti Hasmah lahir di Klang, Selangor, pada 12 Juli 1926. Ia termasuk generasi awal perempuan Melayu yang memasuki pendidikan kedokteran. Ia lulus dari King Edward VII College of Medicine Singapore pada 1955 dan kemudian bergabung dengan pelayanan kesehatan pemerintah Malaysia.