Berandaindonesia.com, Makassar–Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengakhiri perjalanan politiknya di Partai Golkar. Senin pagi tadi, (5/10/2026), Munafri yang akrab disapa Appi menyerahkan langsung surat pengunduran dirinya kepada Ketua DPD Golkar Sulawesi Selatan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) di kediaman IAS di Jalan Batu Putih, Makassar.
Surat tersebut menandai berakhirnya status Munafri sebagai kader Partai Golkar sekaligus mengakhiri posisinya sebagai Ketua DPD Golkar Kota Makassar. Dalam surat yang ditujukan kepada ketua DPD Golkar Sulsel itu, Appi juga secara tegas menyatakan tidak bersedia diangkat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD II Golkar Makassar.
Penyerahan surat berlangsung sekitar pukul setengah sembilan Wita. Pertemuan Appi dan IAS berlangsung sekitar 25 menit. Appi datang bersama Wakil Bupati Soppeng yang sekaligus Ketua Bappilu Demokrat Sulsel Selle KS Dalle, serta fungsionaris Golkar Makassar Muh Nur Alamsyah.
Wakil Ketua Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu DPD Golkar Sulsel Kadir Halid membenarkan pengunduran diri tersebut.
“Sudah resmi mundur, mulai hari ini. Tadi pagi diantar langsung suratnya ke rumah Pak IAS,” kata Kadir kepada wartawan pada kesempatan terpisah.
Dalam surat pengunduran dirinya, Appi tidak menyebut adanya konflik dengan IAS maupun pengurus Golkar sebagai alasan keputusannya. Ia justru mengenang Golkar sebagai bagian penting dari perjalanan politiknya.
“Partai Golkar adalah rumah tempat saya ditempa. Di bawah rindang beringin, saya belajar bahwa politik adalah jalan pengabdian dan bahwa karya selalu lebih nyaring daripada kata,” kata Appi dalam keterangan tertulisnya.
Ia kemudian menyatakan keputusannya untuk mengakhiri keanggotaan di partai berlambang pohon beringin itu.
“Saya menyatakan mengundurkan diri sebagai kader Partai Golkar, terhitung sejak tanggal surat ini,” katanya.
Appi mengatakan keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan perjalanan politiknya bersama Golkar. Ia menyatakan keputusannya dilakukan dengan ikhlas dan tanpa menyisakan ganjalan.
“Keputusan ini saya ambil dengan ikhlas, tanpa menyisakan ganjalan di hati. Saya pamit sebagai kader, tetapi tidak sebagai kawan dan saudara,” kata Munafri dalam keterangan itu.
Munafri menyampaikan terima kasih kepada para senior, pengurus dan kader Golkar atas kepercayaan, bimbingan dan persaudaraan yang didapatnya selama di partai Golkar.
Keputusan Munafri keluar dari Golkar sekaligus menutup kemungkinan dirinya kembali memimpin sementara Golkar Makassar. Dalam surat itu, ia menegaskan ketidak-sediannya diangkat sebagai Plt Ketua DPD Golkar Kota Makassar.
IAS: Kami Hargai Keputusan Munafri
IAS menerima langsung surat pengunduran diri tersebut. Ketua DPD Golkar Sulsel itu mengatakan partainya menghormati keputusan politik yang diambil Munafri.
“Kami menghargai keputusan Appi melepas status sebagai kader Golkar,” kata IAS kepada wartawan usai menerima surat pengunduran diri tersebut.
IAS mengatakan dirinya akan membawa surat pengunduran diri Appi ke DPP Golkar di Jakarta. Ia memang mempunyai jadwal ke Jakarta untuk berkonsultasi dengan DPP Golkar mengenai persiapan pelantikan Pengurus DPD Golkar Sulsel.
“Kebetulan akan ke Jakarta untuk konsultasi persiapan pelantikan ke DPP Golkar. Surat pak Appi sekaligus akan diserahkan ke DPP,” ujar mantan walikota Makassar ini.
Enam Tahun Bersama Partai Golkar
Keputusan Munafri meninggalkan Golkar menjadi penting karena perjalanan politiknya di partai tersebut relatif panjang dan berlangsung ketika karier politiknya berkembang pesat.
Appi bergabung dengan Golkar pada 2020. Setahun kemudian, ia mendapat mandat menjadi Ketua DPD Golkar Kota Makassar menggantikan Farouk M Betta. Dalam kepemimpinannya, Golkar Makassar menghadapi sejumlah agenda elektoral, termasuk Pemilu 2024 dan Pilkada Makassar 2024.
Pada Pemilu 2024, perolehan kursi Golkar di DPRD Makassar meningkat dari lima menjadi enam kursi. Munafri sendiri terpilih menjadi anggota DPRD Sulsel dari Dapil 1 (Makassar A).
Pada tahun yang sama, Munafri maju dalam Pilkada Makassar 2024, berpasangan dengan Aliyah Mustika Ilham, Munafri-Aliyah (MULIA). Pasangan ini diusung oleh Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Perindo, dan Partai Hanura. Pasangan MULIA memenangkan kontestasi tersebut, mengalah tiga pasangan lainnya.
Dengan kemenangan itu, Appi menjadi Wali Kota Makassar dan membawa Golkar kembali memiliki kepala daerah di ibu kota Sulawesi Selatan. Namun, perjalanan Munafri bersama Golkar berakhir ketika ia masih menjabat sebagai wali kota Makassar.
Mundur Setelah Setelah Dilamar Partai Demokrat
Pengunduran diri Appi juga berlangsung di tengah terbukanya komunikasi politik dengan Partai Demokrat.
Dua hari sebelumnya, Sabtu (3/10/2026), Appi bertemu Ketua Dewan Pakar DPP Partai Demokrat Andi Alfian Mallarangeng di Hotel Novotel Makassar. Dalam pertemuan itu, Mallarangeng secara terbuka “melamar” Munafri bergabung dengan Partai Demokrat.
Saat itu Munafri belum menyatakan menerima atau menolak bergabung. Ia menyebut masih menunggu proses di internal Golkar.
Kini, setelah resmi keluar dari Golkar, Demokrat bakal kembali membuka lebar pintunya bagi Munafri. Kondisi Demokrat bagi Munafri ini diakui oleh Alfian Mallarangeng ketika menerima kabar pengunduran diri Munafri dari Partai Golkar.
“Kalau Bung Appi kemudian bersedia bergabung ke Partai Demokrat sesuai dengan ajakan saya kemarin di Makassar, tentu kami akan membuka pintu lebar-lebar,” kata Mallarangeng sebagaiman dikutip sejumlah media Senin (5/10/2026).
Pintu lebar Partai Demokrat tersebut, juga dapat dilihat dari kehadiran Ketua Bapilu Demokrat Sulsel Selle KS Dalle ketika Appi menyerahkan surat kepada IAS.
Golkar Sulsel Hargai Keputusan Munafri
DPD Golkar Sulsel bakal menunjuk Plt Ketua Golkar Makassar pasca mundurnya Munafri dari Partai Golkar. Apalagi, pengunduran diri Munafri itu disertai dengan penegasan menolak menjadi Plt Ketua DPD Golkar Kota Makassar.
Terkait isu pengunduran diri Munafri ini, Ketua Harian DPD Golkar Sulsel Supriansa mengatakan, Golkar menghargai keputusan tersebut. Menurutnya, setiap orang memiliki kebebasan menentukan arah dan tujuan politiknya.
“Saya kira setiap, orang memiliki kebebasan menentukan arah dan tujuan politiknya dan kami menghargai itu,” ujar Supriansa kepada wartawan hari ini.
Tetap Berkawan dan Bersaudara
Appi menutup suratnya dengan kalimat yang juga menjadi penanda bagaimana ia mengakhiri hubungan politiknya dengan Partai Golkar.
“Saya pamit sebagai kader, tetapi tidak sebagai kawan dan saudara,” tulis Munafri pada suratnya.[]
Sumber: berandaindonesia.com dan sumber lainnya