Saya menemukan bagian yang paling unik pada buku ini, yang secara struktur sintaks buku pada umumnya, yaitu penyebutan nama-nama tokoh atau sosok yang juga ada dalam rangkaian cerita Amran Razak ini. Untuk hal ini, saya mengibaratkan buku ini sebagai absensi atau index tokoh, yang disusun atau ditempatkan berdasarkan tema peristiwa yang sedang diulas atau diceritakan. Contoh, nama saya Maqbul Halim disebut saat mengulas pembentukan UKPPM (Unit Kegiatan Pers dan Penyiaran Mahasiswa) Unhas, Aksi Reformasi 1998, kelompok FDT (Forum Diskusi Tamalanrea).
Mencermati isi buku ini dari awal sampai akhir atau dari akhir sampai awal, saya tidak menemukan gelombang cerita yang bisa saya sebut sebagai cerita pasang-surut gerakan (perlawanan) mahasiswa Unhas. Jika kita mengambil titik pada awal tahun 1970-an, justru yang saya dapatkan bukan pasang-surut, melainkan surut-terus atau surut-surut. Hingga saat ini, pada bagian akhir buku ini, jiwa perlawanan mahasiswa Unhas sudah mendekati titik nol, titik beku. Jiwa tak ada, raga pun tak ada.
Di depan peserta acara peluncuran buku, saya mengatakan bahwa menurut buku ini, puncak gerakan perlawanan mahasiswa Unhas justru pada kisaran tahun 1970-an hingga 1980-an. Pemahaman saya ini memang bisa diragukan, tetapi isi buku ini secara sintaks justru membuka pemahaman saya bahwa aksi mahasiswa Unhas pro reformasi tahun 1998, pada dasarnya bukan puncak gerakan perlawanan. Sebab buku ini hanya mencatat keterlibatan lembaga-lembaga kemahasiswaan pada aksi reformasi 1998 yang memang bukan kesinambungan bagi perlawanan mahasiswa Unhas.
Bandingkan dengan aktivis mahasiswa pergerakan tahun 70-an dan 80-an, mereka berhasil memanfaatkan kelembagaan mahasiswa kampus sebagai tameng atau payung untuk aksi-aksi perlawanan terhadap Orde Baru dan militerisme. Itu pada sisi kelembagaan kampus, yang memang merupakan bagian dari kelembagaan universitas secara keseluruhan. Ada juga sisi lain yang merupakan jiwa gerakan perlawanan mahasiswa Unhas, yakni kelompok-kelompok diskusi yang ragam dan bentuknya dibeberkan dengan terang dan rinci pada sepanjang isi buku ini. Kelompok diskusi dan lembaga kemahasiswaan pada era ini, menjadi raga bagi jiwa perlawanan mahasiwa Unhas. Sepanjang 70-an dan 80-an, mendapatkan tekanan langsung oleh penguasa Orde Baru dan aparat-aparat militer.
Setelah memasuki era 1990-an, aksi perlawanan mahasiswa Unhas di lembaga kemahasiswaan beranjak turun untuk mencapai titik nol. Namun demikian, aksi perlawanan mahasiwa Unhas masih hidup dan dicatat dengan baik dalam catatan Amran Razak pada hampir semua bagian pada buku yang ditulisnya ini. Jiwa perlawanan itu tetap hidup dan menstrukturkan diri dan gerakannya pada forum-forum diskusi kampus dan penerbitan pers mahasiswa (bukan penerbitan kampus atau penerbitan pers kampus). Selain forum diskusi, dalam catatan buku ini, ada juga organisasi esktra universitas seperti HMI, IMM, PMII, GMNI yang secara tidak langsung menjadi kendaraan bagi jiwa perlawanan mahasiswa Unhas yang terus begerilya mencari raga.