Pada bagian akhir buku ini, ada semacam pesimisme tentang jiwa perlawanan dan kritisisme mahasiswa unhas. Termasuk namun bukan bagian dari itu, adalah eksistensi lembaga mahasiswa yang kini bernama BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Mantan aktivis kampus, mantan fungsionaris, maupun alumni Unhas yang hadir pada peluncuran buku ini, menyayangkan keadaan mahasiswa Unhas saat ini, jiwa tak ada, raga pun tak ada. Sementara catatan lalu kampus merah yang dihuni mahasiswa yang dibesarkan oleh jiwa perlawanan ini, justru terputus di Era Reformasi ini, khususnya pada fase 2020-an saat ini.
Unhas tidak mampu membentuk BEM Unhas. Mahasiswa Unhas tidak mampu membentuk BEM Unhas. BEM Unhas pun juga tidak mampu memunculkan sosoknya untuk dibentuk. Pada saat yang sama, sikap kritis dan naluri perlawanan mahasiswa Unhas menguap di tengah lautan evolusi sosial media dan AI dalam berbagai bentuk dan variannya.
Pada bagian akhir buku ini, dengan kalimat lirih, Amran Razak berharap, “BEM mungkin berubah bentuk, bisa jadi hilang, bisa jadi berevolusi. Tetapi semangat mahasiswa Makassar tidak pernah benar-benar hilang.” (Halaman 141)
Pada sesi tanggapan dan pertanyaan, saya melontarkan pemikiran saya tentang masa depan BEM. Ibarat surat kabar cetak yang berhadap dengan media online dan sosial media di masa sekarang, jika belum mati (tutup atau berhenti selamanya), maka surat kabar cetak yang masih hidup saat ini, hanya menuda atau menunggu kematian mesih cetaknya. Demikian pula BEM di tengah gempuran AI dan IOT. Jika masih ada BEM yang masih hidup di UI (Universitas Indonesia), UGM (Universitas Gadjah Mada) atau universitas lainnya di Indonesia, BEM-BEM itu hanya menunggu kematian ragannya.
Terakhir, tentu saya sangat berterima kasih atas undangan Amran Razak pada acara Soft Launching di atas. Berkat ini, saya bisa kembali berdiskusi dengan Faisal Abdullah (Prof dan dosen fakultas Hukum Unhas) sebagai pemantik diskusi. Juga dengan Abd Hafid (mantan ketua BEM Fisip Unhas dan Ketua Koordinasi BEM Se-Unhas 2006) dan Ismail Basri (Redaktur Pelaksana SKK IDENTITAS Unhas), dan banyak lagi alumni dan aktivis Unhas sepanjang masa.
Yang paling mengesankan juga adalah produktivitas menulis buku dari Amran Razak, yang sangat berat diikuti oleh guru besar lain di Unhas, yang kemampuan rata-ratanya paling tinggi pada indeks Scopus yang sangat administratif itu. Saya pikir, masih ada lima sampai enam buku berikutnya yang akan ditulis oleh Amran Razak sekaitan dengan Unhas, guru besar, profesor pensiun, atau tentang IDENTITAS Unhas.
Judul di atas, “Amran Razak Menulis, Maka Unhas Ada” mungkin berlebihan. Pada dasarnya tidak berlebihan, karena Amran Razak menulis tentang dunia kemahasiswaan yang terus berdinamika sejak tahun 70-an. Jika Amran Razak tidak menuliskan itu dalam 3 (tiga) buku yang sudah terbit, maka generasi bekalangan seperti saya, tentu tidak bakal punya wawasan luas tentang ikhwal dunia kemahasiswaan di Unhas. Ya, tentu saja, karena saya juga belum menemukan buku yang sebagus dan selengkap catatan Amran Razak bertutur dan berkisah tentang perjalanan aktivitas kemahasiswaan di Unhas yang membentang dari kampus Baraya hingga kampus Tamalanrea.
Terima kasih Pak Amran dan kami tunggu buku selanjutnya.