Sejumlah media dalam analisisnya melaporkan adanya benturan antara Purbaya dan sejumlah pejabat tinggi Kemenkeu mengenai rotasi di sektor pajak dan bea cukai. Analisis itu didasarkan pada keterangan sumber pemerintah.
Namun salah satu pejabat yang disebut, Djaka Budhi Utama, membantah adanya konflik di lingkungan kementerian keuangan.
Karena itu, bagian ini masih menyisakan ruang kosong: kita mengetahui ada persoalan, tetapi belum mengetahui seluruh alasan yang berada di balik keputusan Presiden memecat Purbaya.
Mengapa Publik Merasa Kehilangan?
Selama setahun di Kemenkeu, Purbaya membangun karakter yang berbeda dari bahasa birokrasi pada umumnya. Ia berbicara lugas. Kadang keras. Tidak terlalu banyak menggunakan istilah yang berjarak dengan wawasan publik.
Ia juga meninggalkan sejumlah kebijakan yang mudah dikenali. Contoh, penempatan dana pemerintah di perbankan untuk memperkuat likuiditas dan mendorong kredit.
Ia menjadi “pengadil” pada sidang debottlenecking (Kanal Debottlenecking pada Satgas P2SP bentukan Menko Perekonomian) untuk menyelesaikan hambatan investasi dan dunia usaha.
Bagi sebagian masyarakat, Purbaya terlihat sebagai teknokrat yang berani bicara terus terang.
Maka ketika ia pergi secara mendadak karena dipecat, muncullah rasa kehilangan oleh publik.
Tetapi reaksi publik tidak tunggal. Ada yang kecewa dan mempertanyakan cara pemberhentian, ada pula yang melihatnya sebagai konsekuensi biasa dari keinginan Presiden mengefektifkan kabinetnya.
Begitu pula dengan warisan ekonominya. Masa Purbaya bertepatan dengan pertumbuhan ekonomi yang menguat. Namun pertumbuhan itu berbarengan pelebaran defisit, serta kekhawatiran mengenai kredibilitas fiskal.
Karena itu, satu tahun Purbaya tidak dapat dibaca hanya sebagai kisah keberhasilan ataupun kegagalan.
Pemecatan Purbaya Tanpa Perang Terbuka
Ada satu adegan lain yang tidak kalah penting. Setelah diberhentikan, Purbaya mengaku kecewa. Namun ia menerima bahwa pergantian menteri adalah kewenangan presiden.
Ia tidak mengubah pemecatannya menjadi perang terbuka terhadap Prabowo.
Sikap itu kemudian membentuk persepsi publik tentang diri Purbaya sebagai teknokrat yang tetap tenang ketika kehilangan jabatan.
Namun, persepsi tetaplah persepsi. Persepsi itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Purbaya adalah figur paling bersih, paling jujur, atau paling berintegritas.
Yang mungkin lebih tepat adalah pengalaman profesional dan gaya komunikasinya telah membentuk modal kepercayaan di hati dan pikiran publik. Modal itulah yang kini ia miliki ketika Prabowo menendangnya keluar dari kabinet Merah Putih.