Dengan demikian, Siti Hasmah menyaksikan langsung dua periode pemerintahan suaminya yang terpaut 15 tahun. Ia berada di sisi Mahathir ketika politik Malaysia memasuki masa pembangunan ekonomi pada 1980-an dan 1990-an, ketika Mahathir meninggalkan jabatan pada 2003, serta ketika ia kembali ke kekuasaan pada 2018.
CNA Singapore mencatat, dalam memoarnya yang terbit pada 2016, “My Name is Hasmah”, Siti Hasmah menggambarkan Mahathir sebagai “hero”-nya. Ia mengenang bagaimana Mahathir membantunya ketika mengalami kesulitan dalam pelajaran fisika dan kimia saat menjadi mahasiswa kedokteran di Singapore.
Hubungan keduanya juga melampaui batas politik. Siti Hasmah dikenal memiliki hubungan personal dengan sejumlah tokoh keluarga politik Malaysia, termasuk Wan Azizah Wan Ismail, istri Anwar Ibrahim. Ketika Mahathir dan Anwar kembali berada dalam satu kubu menjelang Pemilu 2018, hubungan kedua perempuan itu juga kembali terlihat di ruang publik.
Pujian dari Anwar dan Tokoh Singapura
Setelah berita kematian Siti Hasmah menyebar, ucapan penghormatan datang dari berbagai lapisan masyarakat Malaysia dan dari kawasan ASEAN.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan pemerintah akan memberikan upacara pemakaman kenegaraan kepada Siti Hasmah. Anwar juga mengarahkan Ketua Setiausaha Negara dan Panglima Angkatan Tentera membantu pelaksanaan pemakaman tersebut.
Dalam pernyataannya, Anwar mengatakan negara akan selalu mengingat sosok Siti Hasmah.
“The nation will always remember her maternal figure and appreciate her contributions,” kata Anwar sebagaimana dikutip kantor berita Malaysia BERNAMA.

Anwar juga menggambarkan Siti Hasmah sebagai sosok yang aktif dalam kegiatan sosial dan menunjukkan kepedulian terhadap persoalan rakyat ketika Mahathir menjadi perdana menteri.