Mungkin karena pertimbangan periodisasi yang akan berakhir di atas itu, Appi menyatakan lebih awal tentang kesiapannya bertarung di Musda XI Golkar Sulsel. Ada adagium yang menyatakan bahwa peluang atau kesempatan hanya mampir pada orang yang siap.
Sejak deklarasi Appi pada Februari 2025 itu, rawa politik Sulsel seketika ditumbuhi belukar wacana positif dan negatif. Appi disoroti karena ia masih ketua DPD Golkar Makassar. Lagi pula, ia masih menjabat walikota Makassar yang tentu saja masih ingin lanjut ke periode kedua. Salah satu sorotan terkuat, penyorot menginginkan Appi mestinya lanjut benahi Golkar Makassar agar bisa merebut kembali kursi ketua DPRD Kota Makassar yang lepas dari Golkar pada Pemilu 2019.
Pada Maret 2021, Appi terpilih secara aklamasi untuk memimpin DPD Golkar Makassar. Mulai di situ, Appi melakukan pembenahan besar-besaran pada stuktur DPD Golkar Makassar untuk menghadapi Pemilu Legislatif 2024 dan Pilkada Kota Makassar 2024. Pada Pemilu legislatif, Appi berhasil mendudukkan dirinya menjadi anggota DPRD Sulawesi Selatan, dan menambah kursi DPRD Makassar dari 5 menjadi 6 kursi.
Demikian juga, dengan kendaraan Partai Golkar, Appi bersama Aliyah Mustika Ilham dari Partai Demokrat berhasil memenangi Pilkada Kota Makassar 2024, mengalahkan tiga pasangan calon lainnya.
Kegemilangan Appi di Golkar Makassar mestinya berlanjut jika tetap memimpin Golkar Kota Makassar, menurut rerata sorotan yang muncul. Jika ia menjadi Ketua DPD Golkar Sulsel, maka misi Golkarnya di Kota Makassar tidak akan selesai atau tercapai.
Langkah Appi ini juga dinilai sebagai kebingungan politik, apakah ingin menjadi walikota Makassar dua periode atau ingin jadi calon gubernur Sulsel. Kalau bukan rencana untuk menjadi Gubernur Sulsel, untuk apa menjadi ketua DPD Golkar Sulsel. Demikian dengungan para penyorot ketika itu.
Di bursa Musda XI Golkar Sulsel, beberapa penantang yang lebih dahulu memasuki arena sejak akhir 2024, antara lain Taufan Pawe (untuk periode kedua), Andi Ina Kartika Sari, Adnan Purichta Ichsan YL, Indah Putri Indriani. Belakangan waktu itu, muncul juga Appi (Februari 2025) dan Ilham Arief Sirajuddin atau IAS (Mei 2025). Jedah waktu tiga bulan itu (dari Februari ke Mei 2025), menimbulkan pemahaman bahwa IAS membayang-bayangi gerakan Appi menuju Musda Golkar Sulsel.
Sejak itu, Appi maupun IAS silih berganti menyambangi pimpinan-pimpinan Golkar di daerah. Progres yang paling fantastis adalah Appi berhasil mendulang sampai belasan dukungan tertulis dari DPD pemilik suara dalam waktu singkat. Selain safari ke daerah, kedua figur ini juga berburu dukungan dari DPP Golkar di Jakarta. Dibandingkan dengan Appi, IAS lebih sering ke Jakarta mengurus dukungan dari DPP.
Apa yang membuat Appi menetapkan rencananya untuk menjadi ketua DPD Golkar Sulsel? Di sini, saya mencoba membaca cara berpikir Appi sebelum memulai perjalan (road to) menuju Musda Golkar Sulsel. Urian berikut ini tentu bukan hasil percakapan dengan kubu Appi, melainkan realitas Golkar Sulsel yang ada di hadapan Appi setelah Pemilu dan Pilkada 2024 di Sulsel, termasuk kondisi Golkar Sulsel sepanjang perjalanan menuju Pemilu 2024.
Masa-masa awal setelah Pemilu Februari 2024, kepemimpinan Golkar di bawah tahta Taufan Pawe menemukan hasil yang menyesakkan dada. Golkar Sulsel bergerak maju ke belakang. Perkembangan Golkar Sulsel betul-betul menggembirakan kompetitor Golkar di panggung politik Sulsel.
Di DPRD Sulsel hasil Pemilu 2024, Golkar kehilangan kursi ketua DPRD Sulsel yang menjadi Hak Paten Golkar Sulsel sejak Pemilu awal Orde Baru 1971, atau selama 45 tahun. Kursi ketua DPRD Sulsel itu itu direbut oleh Partai Nasdem yang menguasai 17 kursi, dimana Golkar hanya 14. Meski kursi Golkar naik satu dari 13 menjadi 14 kursi, namun itu tidak membuat Golkar bisa mempertahankan ketua DPRD Sulsel.