Munafri Arifuddin dan Musda Golkar Sulsel Saling Meninggalkan

Appi Musda Golkar

Design by AI

Sejumlah 21 nyawa, bukan 9 nyawa seperti dalam lagu Rezky Febian, tidak bisa bertahan di sisi Appi. Mereka lebih memilih tunduk pada keinginan pemilik partai di Jakarta. Mungkin Appi ingin berkata dalam hati, “kalau saya tahu 21 itu hanya mampir, saya suguhkan kopi saja, bukan hati.”

Ketua umum Bahllil Lahadalia di DPP pun tidak berubah, selalu menjaga jarak dengan Appi. Sebaliknya, ketua umum membuka senyumnya selebar mungkin untuk IAS. Kartu Appi berupa kapasitas dan isi tas tidak berlaku. Ia tidak bisa melanjutkan pencalonannya, sekalipun telah diambilkan formulir pencalonan. Roda Musda terus berputar tanpa menunggu sikap Appi. Musda Golkar Sulsel betul-betul meninggalkan Appi.

Mungkin Appi sedang menatap Musda Golkar dengan ketawa geli. Ia ingin ikut, tapi Musda sudah meninggalkannya. Rabu 15 Juli, Appi terbang tinggalkan Makassar menuju Jakarta, untuk ibadah Umrah di Mekkah-Medinah. Saat pesawat Appi take off di Makassar ini, mungkin itulah lukisan bagaimana Appi meninggalkan Musda Golkar Sulsel. Saling meninggalkan.

Baca Juga  Golkar Tegaskan RUU Pemilu Belum Masuk Tahap Pembahasan

Jika pun memang Bahlil tidak menginginkan Appi menjadi ketua Golkar Sulsel, Bahlil juga mungkin tidak mengerti tentang ketidak-inginannya itu.

Appi terpilih secara aklamasi menjadi ketua Golkar Kota Makassar pada Maret 2021, saat Ketum Golkar dijabat Airlangga Hartarto, atau sebelum dijabat oleh Bahlil Lahadalia. Lain lubuk lain ikannya, lain ketum lain keinginannya.

Besok sore di Mekkah, atau siang waktu Makassar, Appi mungkin sedang khusuk beribadah di depan Kiblat. Sementara di Makassar, Golkar Sulsel sedang sibuk ber-Musda. Appi berdoa di sana, IAS terpilih di sini.

Di Sulawesi Selatan, masyarakat Bugis-Makassar sudah akrab dengan pepatah leluhur tentang politik. Yana ritu riyaseng E politi’, duwa mi tu passaleng. Golla ri mulanna, kaluku tengngaa na, paria cappanna. Yaaregga, paria rimulanna, kaluku tengngaa na, golla cappanna.

Artinya, seseorang yang berpolitik itu selalu tentang dua hal (dua alur). Yaitu manis di awal, hambar di tengah, dan pahit (mengecewakan) di akhir. Atau sebaliknya, pahit (mengecewakan) di awal, hambar di tengah, dan manis di akhir.

Baca Juga  Walikota Munafri Tegaskan: Pegawai Pemkot Dilarang Pamer

Setiap momen politik yang awalnya merayakan kemenangannya penuh kegembiraan (manis), itu hanyalah tanda dimulainya perjalanan menuju akhir atau kepahitan. Perjalanan awal menuju akhir dalam politik adalah perjalanan yang penuh aksi saling mengintip dan saling mengawasi. Siapa yang tidur, bakal kehilangan. Siapa yang tidak tidur, bakal tumbang kelelahan.

Selamat ber-Musda kader Partai Golkar di Sulawesi Selatan besok. Semoga berhasil merebut kembali kejayaan beringin.[]

 

Appi Musda Golkar
Maqbul Halim

======

Artikiel Opini ini ditulis oleh Maqbul Halim (maqbulhalim@gmail.com), jurnalis dan penulis. Opini ini dikirimkan langsung oleh penulis ke redaksi Berandaindonesia.com. Isi opini adalah sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi Berandaindonesia.com.

News