Munafri Arifuddin dan Musda Golkar Sulsel Saling Meninggalkan

Appi Musda Golkar

Design by AI

Demikian juga, kursi ketua DPRD di Sulawesi Selatan yang dimenangi Partai Golkar dari Pemilu 2019 ke Pemilu 2024 mengalami penurunan. Yakni dari 18 kursi ketua DPRD pada Pemilu 2029 menjadi 14 kursi ketua DPRD pada Pemilu 2024.

Secara keorganisasian, DPD Golkar Sulsel juga mengalami kemalasan. Pengakuan beberapa fungsional DPD Golkar menyebutkan bahwa selama Taufan Pawe menjabat ketua DPD Golkar Sulsel, tidak pernah ada yang namanya Rapat Pleno atau Rapat Pengurus Harian. Yang sering terjadi adalah rapat terbatas yang pesertanya SERING SELALU SUNGGUH SANGAT TERBATAS.

Mungkin dalam pikiran Appi pada urutan selanjutnya, figur pemimpin Golkar Sulsel berikutnya setelah Pemilu Februari 2024 itu, hanya menyisakan mereka yang di bawah rata-rata air. Termasuk sosok-sosok tadi yang sudah duluan masuk bursa. Kita bisa tinjau saingan Appi yang telah saya sebutkan di atas. Appi pasti membandingkan kapasitas dan isi tasnya dengan mereka.

Belum ada figur, termasuk empat tadi, yang berani menyebutkan melalui mulutnya sendiri untuk maju bertarung di Musda Golkar Sulsel. Mereka hanya disebut-sebut oleh media, penulis dan wartawan. Appi melihat ini sebagai peluang karena kompetitornya terus “malu-malu kucing”. Umumnya kompetitor Appi ini menunggu petunjuk dari DPP atau ketum Golkar, kecuali IAS. Appi dan IAS tidak menunggu restu dari Jakarta terlebih dahulu.

“Kalau DPP menghendaki saya dari ketua, saya siap bertarung,” ujar seorang dari figur-figur tersebut.

Appi lalu datang. Dengan suara lantang dan terang, ia menyebut dirinya siap bertarung di Musda Golkar Sulsel. Mantan CEO PSM ini memilih sikap yang tidak seperti figur lain yang malu-malu kucing.

Baca Juga  Bahlil Minta Anggaran Rp815 Miliar untuk Program Kompor Listrik di RAPBN 2027

Seorang ketua Golkar Sulsel harus punya magnet. Mungkin begitu Appi melihat dirinya sebagai ketua Golkar Makassar saat itu, termasuk mungkin saat ini. Apa magnet itu? Yaitu adalah jabatan walikota Makassar. Jabatan kepala daerah. Jabatan seperti ini selalu memudahkan partai menyusun rencana dan menggerakkan partai. Kalau suatu daerah berwarna biru, itu karena bupatinya ada di partai biru. Pokoknya, dengan jabatan ini, sumber daya mendatangi partai.

Mari lihat rival Appi di internal Golkar. Adnan Purichta sudah bukan bupati Gowa. Indah Putri Indriani sudah bukan bupati Luwu Utara. Taufan Pawe sudah bukan walikota Parepare. IAS juga bukan kepala daerah. Jadi, yang punya magnet hanya Appi, dan juga Andi Ina. Di luar dari dua sosok ini, tidak punya magnet untuk menggerakkan organisasi Golkar Sulsel.

Kecuali Andi Ina yang sedang mejabat Bupati Kabupaten Barru saat ini. Namun secara leadership, Appi tentu lebih di depan daripada Andi Ina. Keduanya memang ketua ikatan alumni. Appi ketua IKA Fakulta Hukum Unhas, Andi Ina ketua IKA SMANSA Makassar. Appi walikota di kota Makassar, Andi Ina bupati di daerah. Lagi pula, Andi Ina tidak pernah terlihat bersungguh-sungguh ingin jadi ketua Golkar Sulsel. Leadership-nya memang lebih sebagai “given”. Bisa juga pemberian alam.

Jika magnet jabatan walikotanya masih belum cukup untuk menggerakkan Partai Golkar Sulsel, Appi masih punya magnet cadangan. Cadangan itu adalah korporasi bisnis Bosowa yang punya reputasi bisnis skala nasional. Appi merupakan salah satu owner di grup ini.

Baca Juga  IAS Ketua Golkar Sulsel, Kursi DPR RI Golkar juga Bertambah

Bosowa juga punya kembaran bisnis yang bisa menjadi pelapis. Kembaran itu adalah Kalla Group. Sebagaimana kerap terjadi di masa lalu, Bosowa Group dan Kalla Group kerap kali tidak bisa dipisahkan jika ada keluarga dari kedua group ini punya hajatan politik. Pokoknya, kompaklah.

Jika seperti ini cara Appi memandang dan meyakinkan dirinya, maka lima figur kompetitornya di Musda Golkar Sulsel sudah bukan masalah serius. Seperti begitulah sebelum datangnya tiupan angin, 21 gelembung-busa memandang sosok Appi dalam kacamata magnet tadi. Jika ingin gelembung-busa itu tidak tercerai berai, sebaiknya jangan ada tiupan angin.

Cerita tentu berbeda jika salah satu dari kompetitor itu mendapatkan mukjizat yang tidak bisa dilawan dengan kapasitas dan isi tas, maka tentu Appi akan menjadi Wassalam. Dan itulah yang terjadi saat IAS mendapatkan rekomendasi Diskresi dari Ketum Bahlil, Alam Semesta tunduk dan merunduk kepada IAS. Gelembung-busa di sisi Appi berhamburan. Bahkan bayangan Appi sendiri pun bengkok mengarah ke IAS.

Waktu bergulir, Appi tidak bisa mempertahankan cara memandang dirinya menatap Musda Golkar Sulsel. Ambisi Appi yang berisi kapasitas dan isi tas, tidak bisa memulihkan cara pandang DPP Golkar untuk kepentingan Golkar Sulsel. Waktu setahun yang dihabiskan oleh DPP Golkar untuk mencari waktu yang tepat melaksanakan Musda Golkar Sulsel tahun ini, rupanya bukan untuk memahami lebih dalam kapasitas dan isi tas Appi.

News